Termoregulasi Dan Adaptasi Fisiologi Sistem Metabolisme pada Bayi

Termoregulasi Dan Adaptasi Fisiologi Sistem Metabolisme pada Bayi (1)
Termoregulasi Dan Adaptasi Fisiologi Sistem Metabolisme pada Bayi

Termoregulasi Dan Adaptasi Fisiologi Sistem Metabolisme Pada Bayi

Sistem Termogulasi 

            Termoregulasi ialah kemampuan guna menjaga keseimbangan antara pembentukan panas dan kehilangan panas agar dapat menjaga suhu tubuh di dalam batas normal.

Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan – perubahan lingkungan. Pada saat bayi keluar dari rahim ibu yang hangat, bayi tersebut kemudian masuk ke dalam lingkungan luar rahim yang jauh lebih dingin. Suhu dingin ini mengakibatkan air ketuban menguap lewat kulit, sehingga mendinginkan darah bayi. Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh, dan mereka mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100 %.

Untuk membakar lemak coklat, seorang bayi harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak bisa diproduksi ulang oleh bayi baru lahir dan cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress karena suhu dingin. Semakin lama usia kehamilan, semakin banyak persediaan lemak coklat bayi. Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis. Oleh karena itu, upaya pencegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan tenaga kesehatan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir. Disebut sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 36˚C. Suhu normal pada neonatus adalah 36,5 – 37,0.

Bayi baru lahir mudah sekali terkena hipotermia yang disebabkan oleh:

    1. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna.
    2. Permukaan tubuh bayi yang relatife lebih luas.
    3. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas.
    4. Bayi belum mampu mengatur possisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak kedinginan.

Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6 – 12 jam pertama setelah lahir. Misal: bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir atau meskipun lingkungan disekitar bayi cukup hangat namun bayi dibiarkan telanjang atau segera dimandikan.

Gejala hipotermi :

    1. Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi kurang aktif, letargis, hipotonus, tidak kuat menghisap ASI dan menangis lemah.
    2. Pernapasan megap-megap dan lambat, denyut jantung menurun.
    3. Timbul sklerema : kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan lengan.
    4. Muka bayi berwarna merah terang
    5. Hipotermia menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian.

Terdapat empat mekanisme kemungkinan hilangnya panas tubuh dari bayi baru lahir kelingkunganya.

    1. Konduksi

Panas dihantarkan dari tubuh bayi ketubuh benda di sekitarnya yang kontak langsung dengan tubuh bayi. (Pemindahan panas dari tubuh bayi ke objek lain melalui kontak langsung). Contoh hilangnya pans tubuh bayi secara konduksi, ialah menimbang bayi tanpa alas timbangan, tangan dpenolong yang dingin memegang bayi baru lahir,  menggunakan stetoskop dingin untuk pemeriksaan bayi baru lahir.

2. Konveksi

Panas hilang dari bayi ke udara sekitanya yang sedang bergerak (jumlah pans yang hilang tergantung pad kecepatan dan suhu udara). Contoh hilanya panas tubuh bayi secara konveksi, ialah membiarkan atau menempatkan bayi baru lahir dekat jendela, membiarkan bayi baru lahir diruangan yang terpasng kipas angin.

3. Radiasi

Panas di pancarkan dari bayi baru lahir, keluar tubuhnya kelingkungan yang lebih dingin (Pemindahan panas anatar dua objek yang mempunyai suhu berbeda). Contoh bayi mengalami kehilangan panas tubuh secara radiasi, ialah bayi baru lahir dibiarkan dalam ruangan dengan Air onditioner (AC) tanpa di berikan pemanas (Radiant Warmer), bayi baru lahir dibiarkan keadaan telanjang, bayi baru lahir di tidurkan berdekatan dengan ruangan yang dingin, misalnya dekat tembok.

4. Evaporasi

Panas hilang melalui proses penguapan tergantung kepada kecepatan dan kelembababan udara (perpindahan panas dengan cara merubah cairan menjadu uap). Evaporasi di pengaruhi oleh jumlah panas yang di pakai tingkat kelembaban udara, aliran udar yang melewati apabila bayi baru lahir di biarkan suhu kamar 250C, maka bayi akan kehilangan panas melalui konveksi, radiasi dan evaporasi 200 perkilogram berat badan (Perg BB), sedangkan yang di bentuk hanya satu persepuluhnya.

Untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir, antara lain mengeringkan bayi secara seksama, Saat mandi, siapkan lingkungan yang hangat, Basuh dan keringkan setiap bagian tubuh untuk mengurangi evaporasi, menyelimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat, menutup bagian kepala bayi, menyarankan ibu untuk mendekap dan menyusui bayinya.

Akibat yang bisa ditimbulkan oleh hipotermi yaitu :

  • HipoglikemiAsidosis metabolik, karena vasokonstrtiksi perifer dengan metabolisme anaerob.
  • Kebutuhan oksigen yang meningkat.
  • Metabolisme meningkat sehingga pertumbuhan terganggu.
  • Gangguan pembekuan sehingga mengakibatkan perdarahan pulmonal yang menyertai hipotermi berat.
  • Shock
  • Apneu
  • Perdarahan Intra Ventricular. Pencegahan dan Penanganan Hipotermi Pemberian panas yang mendadak, berbahaya karena dapat terjadi apnea sehingga direkomendasikan penghangatan 0,5 – 1°C tiap jam (pada bayi < 1000 gram penghangatan maksimal 0,6 °C)

Sistem Metabolisme

Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada masing – masing bayi baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1 hingga 2 jam).

Koreksi penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :

    1. melalui penggunaan ASI
    2. melaui penggunaan cadangan glikogen
    3. melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak.

Bayi baru lahir yang tidak mampu mencerna makanan dengan jumlah yang cukup, akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenisasi). Hal ini hanya terjadi jika bayi memiliki persediaan glikogen yang cukup. Bayi yang sehat akan menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen terutama di hati, selama bulan-bulan terakhir dalam rahim.

Bayi yang mengalami hipotermia, pada saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan menggunakan cadangan glikogen dalam jam-jam pertama kelahiran. Keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercukupi dalam 3-4 jam pertama kelahiran pada bayi cukup bulan. Jika semua persediaan glikogen digunakan pada jam pertama, maka otak dalam keadaan berisiko. Bayi yang lahir kurang bulan (prematur), lewat bulan (post matur), bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan dalam rahim dan stres janin merpakan risiko utama, karena simpanan energi berkurang (digunakan sebelum lahir).

Gejala hipoglikemi bisa tidak jelas dan tidak khas, meliputi; kejang-kejang halus, sianosis, apneu, tangis lemah, letargi, lunglai dan menolak makan. Hipoglikemi juga dapat tanpa gejala pada awalnya. Akibat jangka panjang hipoglikemi adalah kerusakan yang meluas di seluruh di sel-sel otak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *