Tahapan persalinan

Tahapan persalinan (1)
Tahapan persalinan

Jika kehamilan berjalan normal dan sehat, kemungkinan ibu akan bersalin secara normal atau spontan. Ada baiknya mengenali tahapan persalinan :

  1. Kala 1

         Tahap ini menandakan proses persalinan normal telah dimulai. In partu (partus mulai) ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah karena serviks mulai terjadi pematangan dan pembukaan mulut rahim (serviks) hingga melebar sampai 10 cm untuk jalan keluar janin. Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler sekitar kanalis servikalis. Pada umumnya, tahap ini berlangsung antara 8-12 jam.
Tahap ini terdiri dari 2 fase, yaitu:

    1. Fase laten. Pada fase ini, pembukaan mulai dari 0 sampai 3 cm, Mam merasakan mulas tetapi belum terlalu kuat, serta keluar lendir bercampur darah.
    2. Fase aktif. Fase ini terjadi ketika pembukaan sudah sebesar 3 cm dan melebar terus sampai 10 cm. Rasa mulas yang Mam rasakan semakin kuat, dan frekuensinya pun terus meningkat hingga 2-4 kali tiap 10 menit dengan durasi 60-90 detik dan terkadang disertai pecahnya ketuban.

     Masa transisi ini menjadi masa yang paling sulit bagi ibu. Menjelang berakhirnya kala 1, pembukaan jalan lahir sudah hampir sempurna. Kontraksi yang terjadi akan semakin sering dan semakin kuat. Ibu mungkin mengalami rasa sakit yang hebat, kebanyakan ibu yang pernah mengalami masa inilah yang paling berat. Ibu akan merasakan mulas dan terasa seperti ada tekanan yang sangat besar ke arah bawah seperti ingin buang air besar.

Yang bisa ibu lakukan:

    • Persiapkan diri dan mental dengan baik. Ibu tetap harus makan, minum banyak cairan, dan beristirahat.
    • Terus coba untuk berjalan-jalan, misalnya di sekitar klinik atau rumah sakit, juga mandi air hangat agar terasa lebih nyaman.
    • Saat kontraksi datang, cobalah untuk bernafas dengan baik dan teratur.
    • Pijatan pada bagian punggung atau bahu juga dapat memberi perasaan nyaman dan tenang.
    • Cukupi cairan agar tidak dehidrasi menjelang persalinan
  1. Kala II

         Fase ini dimulai saat mulut rahim sudah terbuka secara penuh (10 cm) dan berakhir ketika bayi berhasil dilahirkan. Pada tahap ini, ibu baru boleh mengejan untuk mendorong bayi keluar. Bila sebelumnya ibu rajin mengikuti kelas melahirkan sebagai persiapan melahirkan normal, maka pasti dapat mengejan dengan benar dan efektif. Selain itu, pada tahap ini juga biasanya ditemukan komplikasi persalinan yang mendorong dokter harus melakukan tindakan Caesar. Kontraksi pada tahap ini terjadi lebih panjang dan kuat, biasanya berjarak 3 menit sekali dan terus terjadi selama 40-50 detik. Ibu akan merasakan tekanan yang kuat di daerah perineum.

        Apabila serviks sudah membuka lengkap, namun tidak ada dorongan mengejan akan lebih baik jika menunggu sampai ada kontraksi atau his yang memacu keinginan untuk mengejan. Tanda ibu sudah siap dipimpin untuk mengejan yaitu: dorongan mengejan, tekanan pada anus, perineum menonjol, vulva membuka (dor-ran, tek-nus, per-jol, vul-ka).

         Daerah perineum bersifat elastis, jika kondisi tidak memungkinkan dokter atau bidan akan melakukan pengguntingan perineum (episisotomi), tindakan ini bertujuan untuk mencegah perobekan paksa area perineum akibat tekanan bayi.

Yang bisa ibu lakukan:

    • Cari posisi tubuh yang paling nyaman untuk ibu.
    • Usahakan suasana di sekeliling ibu tetap tenang,
    • Bernafaslah secara teratur, hal ini penting untuk mempersiapkan energi dan tenaga.
    • Jika pembukaan belum lengkap jangan mengejan walaupun terasa ada dorongan ingin mengejan, cukup dengan napas panjang, untuk mencegah bengkak pada serviks.
    • Mengejan saat ada kontraksi atau his
    • Ikuti arahan dokter atau tenaga medis yang menangani tentang teknik mengejan yang benar

Setelah bayi lahir dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD) yaitu bayi diletakkan di dada ibu untuk mencari puting ibu.

  1. Kala III

         Tahap yang juga disebut kala pengeluaran plasenta ini dimulai setelah bayi lahir dan berakhir saat plasenta keluar seluruhnya. Dengan adanya kontraksi rahim, plasenta akan terlepas. Bila tidak ada hambatan, plasenta dapat lepas secara spontan dan tahap ini berakhir dalam waktu 5-10 menit. Namun, bila ternyata terjadi kondisi yang disebut retensio plasenta (seluruh atau sebagian plasenta masih tertinggal di dalam rahim setelah lebih dari 30 menit), maka dokter akan mengeluarkannya secara manual (ditarik dan dirogoh) atau melalui operasi. Plasenta yang berada di dalam rahim terlalu lama dapat membuat ibu berisiko mengalami perdarahan. Setelah plasenta lahir dokter atau bidan akan mengecek laserasi atau robekan perineum dan melakukan penjahitan jika ada robekan. Setelahnya akan dilakukan pembersihan area tempat melahirkan dari darah dan cairan tubuh ibu.

Yang bisa ibu lakukan adalah tetap tenang sambil memeluk bayi di dada ibu yang sedang inisiasi menyusu dini (IMD).

  1. Kala IV

          Setelah bayi dan plasenta berhasil dikeluarkan, maka ibu akan memasuki tahap Kala 4. Pada 2 jam pertama pasca persalinan, ibu masih berisiko terhadap sejumlah masalah pasca persalinan, seperti perdarahan pada robekan jalan lahir atau munculnya penggumpalan darah. Oleh karena itu, ibu akan dipantau secara ketat untuk memastikan tidak adanya komplikasi pasca persalinan. Fase ini berlangsung selama 2 jam usai persalinan. Pada tahap ini ibu masih mengeluarkan darah dari vagina sampai beberapa hari kedepan yang disebut lochea, tetapi tidak banyak yang berasal dari pembuluh darah yang ada di dinding rahim tempat pelepasan plasenta dan sisa-sisa jaringan.

          Pada tahap ini ibu bisa makan dan minum karena mungkin ibu merasa lemas setelah menjalani persalinan yang melelahkan. Jika merasa keluar darah deras dari jalan lahir segera lapor pada dokter atau tenaga medis. Ibu juga akan di pantau tanda vital seperti tensi, nadi, suhu, pernapasan dan jumlah perdarahannya setiap 15 menit pada satu jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *