Sistem ekskresi pada kehamilan

Sistem ekskresi pada kehamilan (1)
Sistem ekskresi pada kehamilan

Sistem ekskresi pada kehamilan

            Ekskresi ialah proses pembuangan sisa metabolisme dan benda tidak bermanfaat lainnya. Ekskresi adalah proses yang terdapat pada semua bentuk kehidupan. Pada organisme bersel satu, produk buangan dikeluarkan secara langsung melewati permukaan sel. Organisme multiseluler memiliki proses ekskresi yang lebih kompleks misalnya keringat dan urin.

Sistem ekskresi ialah cara alami tubuh untuk membuang racun berbahaya dalam tubuh. Secara umum ada lima organ yang bertanggung jawab untuk menjalani proses ekskresi.

    1. Ginjal

                  Setiap makanan, minuman, dan obat-obatan yang kita konsumsi akan menyisakan zat limbah setelah dicerna oleh tubuh. Zat limbah juga diproduksi setiap kali metabolisme bekerja menghasilkan energi dan memperbaiki sel-sel rusak di dalam tubuh. Jika tidak dibuang, segala limbah tersebut akan menumpuk di dalam darah dan berpotensi menyebabkan sejumlah masalah kesehatan. Ginjal ialah organ utama dalam sistem ekskresi yang bermanfaat membuang produk limbah beracun dalam darah dan kelebihan cairan lainnya. Setelah tubuh Anda mengambil gizi dan nutrisi yang dibutuhkan dari makanan, limbah sisanya akan diangkut oleh darah menuju ginjal untuk dibuang  bersama urine melalui uretra saat buang air kecil. Sekitar dua liter limbah akan dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk urine. Keseluruhan proses ekskresi ini dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan cairan dan senyawa kimia lainnya dalam tubuh tetap stabil.

Proses dalam pembentukan urin :

    1. Filtrasi :
      Adalah proses penyaringan sel – sel pada darah. Dan hasil dari proses filtrasi ini berupa urin primer yang masih mengandung air, glukosa, dan asam amino. Namun sudah tidak mengandung protein dan darah.
    2. Reabsorbsi :
      Adalah proses penyerapan kembali zat – zat yang masih dibutuhkan oleh tubuh. Dan hasil dari proses reabsorbsi ini adalah urin sekunder.
    3. Augmentasi :
      Adalah proses pengumpulan cairan dari proses sebelumnya. Dan hasil dari proses augmentasi ini adalah urin sesungguhnya.
    1. Hati (liver)

Kerja ginjal untuk membuang kotoran ternyata bersinggungan erat dengan fungsi hati. Pada awalnya, darah akan disaring lebih dulu oleh hati untuk dipisahkan dari limbah-limbahnya. Limbah dari darah kemudian akan dipecah oleh hati menjadi zat bernama urea. Setelahnya urea akan dibawa ke ginjal dengan menumpang aliran darah untuk diubah menjadi urine yang kita keluarkan. Sementara memecah limbah dari darah, hati juga akan menghasilkan produk sampingan berupa cairan empedu. Empedu ini kemudian akan disalurkan ke usus untuk memecah lemak selama pencernaan dan membantu membuang limbah sisanya dalam bentuk feses ketika BAB.

    1. Sistem pencernaan

Fungsi sistem pencernaan yang utama adalah untuk memecah makanan dan menyerap nutrisi pentingnya agar diserap oleh tubuh. Namun, organ pencernaan utama seperti lambung dan usus juga mempunyai “pekerjaan sampingan” sebagai sistem ekskresi. Setelah ditelan dari mulut, makanan akan turun dari kerongkongan menuju lambung untuk dipecah. Kemudian pecahan makanan tersebut akan mengalir ke usus halus untuk dicerna dan diserap nutrisinya ke dalam darah. Sisa makanan yang belum sepenuhnya tercerna selanjutnya akan dibawa ke usus besar. Usus besarlah yang bertugas untuk memisahkan cairan, zat, serta sisa makanan yang tidak tercerna untuk dijadikan feses yang akan keluar melalui anus saat BAB.

    1. Kulit

Seperti yang telah disebutkan di atas, manusia berkeringat untuk mengeluarkan limbah kotoran dari dalam tubuh. Keringat diproduksi untuk mendinginkan tubuh saat kita kepanasan atau beraktivitas fisik. Keringat dikeluarkan oleh kelenjar keringat yang ada pada lapisan dermis kulit. Selain air, keringat ternyata juga mengandung minyak, gula dan garam, serta limbah hasil metabolisme seperti amonia dan urea. Amonia dan urea ialah zat sisa yang diproduksi oleh hati dan ginjal saat tubuh memecah protein.

Kelenjar keringat ada di seluruh tubuh. Ada dua jenis kelenjar keringat yang utama, yaitu:

    • Kelenjar erin: menghasilkan keringat yang tidak mengandung protein dan lemak. Kelenjar ini banyak ditemukan di tangan, kaki, dan kening.
    • Kelenjar apokrin: menghasilkan keringat mengandung protein dan lemak. Jenis kelenjar ini hanya ada di bagian tubuh tertentu, seperti ketiak dan di alat kelamin.
  1. Paru-paru

Paru – paru ialah organ penting untuk mengatur jalannya pernapasan. Namun, tak banyak orang yang tahu bahwa paru juga menjadi bagian penting dari sistem ekskresi. Awalnya, manusia menghirup udara lewat hidung atau mulut dan masuk mengalir ke bagian belakang tenggorokan atau trakea. Kemudian udara akan terus mengalir sampai ke saluran bronkial. Setelah lewat saluran bronkial atau bronkus, udara akan melalui dua cabang saluran paru-paru (kanan dan kiri) yang disebut bronkiolus. Udara yang masuk lewat bronkiolus kemudian akan berkumpul di alveolus. Alveolus adalah balon-balon kecil tempat terjadinya pertukaran oksigen yang tadinya kita hirup dengan karbon dioksida yang harus dikeluarkan. Karbon dioksida itu sendiri ialah gas buangan yang didapatkan dari proses pembuatan energi dari makanan.

Setiap kali kita mencerna makanan, tubuh akan mendapatkan asupan glukosa (gula darah) yang diedarkan ke semua sel tubuh. Di dalam sel, glukosa akan dibakar dengan bantuan oksigen dalam darah untuk menghasilkan energi. Hasil sisa metabolisme inilah yang salah satunya berupa karbon dioksida (CO2). Otomatis, karbon dioksida kemudian akan dialirkan balik dari seluruh tubuh menuju paru-paru hingga sampai di alveoli untuk dibuang saat kita menghela napas.

Adaptasi sistem ekskresi pada kehamilan

    1. Struktur Sistem Ginjal

Sistem ginjal bertanggung jawab terhadap pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit, mengontrol tekanan arteri, mengeluarkan sampah metabolisme, mengatur aktifitas vitamin D, dan produksi eritrosit serta glukoneogenesis (Blackburn dan Loper, 1992). Adaptasi terhadap kehamilan termasuk diantaranya retensi natrium dan peningkatan volume cairan ekstra seluler. Adaptasi sistem ginjal diperlukan untuk mempertahankan homeostasis dengan adanya peningkatan volume cairan intravaskuler dan ekstravaskuler, meningkatkan ekskresi sisa metabolisme, dan berinteraksi dengan perubahan sistem kardiovaskuler untuk memenuhi kebutuhan oksigen ibu dan janin.

Ginjal meningkat panjangnya kira-kira 1-2 cm, dan merupakan akibat terbesar dari peningkatan aliran darah ginjal dan volume vaskuler. Dilatasi kaliks dan pelvis ginjal dimulai pada trimester pertama dan semakin nyata pada pertengahan kehamilan. Hidronefrosis terjadi pada 80%-90% wanita, mungkin diakibatkan oleh respon ginjal terhadap progesteron dan penambahan tekanan intraureter superior terhadap tepi pelviks. Hidronefrosis lebih sering terjadi pada ginjal kanan, dan kemungkinan besar disebabkan oleh peningkatan distensi uretra kanan

    1. Paru – paru

Pada ibu hamil terjadi perubahan fisiologis yang tidak hanya berhubungan dengan berubahnya bentuk dan berat badan, tetapi juga perubahan biokimia, fisiologis, bahkan emosional yang merupakan konsekuensi dari pertumbuhan janin dalam rahim. Sejalan dengan pertumbuhan janin dan mendorong diafragma ke atas, bentuk dan ukuran rongga dada berubah tetapi tidak membuatnya lebih kecil. Kapasitas paru terhadap udara tetap sama seperti sebelum hamil atau mungkin berubah. Kecepatan pernapasan dan kapasitas vital tidak berubah. Voolume tidal, volume ventilator permenit, dan ambilan oksigen meningkat. Karena bentuk dari rongga thorak berubah dan karena bernapas lebih cepat. Selama kehamilan juga terjadi prubahan hormonal dan faktor mekanik. Perubahan – perubahan ini diperlukan untuk mencukupi peningkatan kebutuhan metabolik dan sirkulasi untuk pertumbuhan janin, plasenta dan uterus. Dari faktor mekanik, terjadinya peningkatan diafragma terutama setelah trimester kedua kehamilan akibat membesarnya janin, menyebabkan turunnya kapasitas residu fungsional yang merupakan volume udara yang tidak digunakan dalam paru sekitar 20%. Saat kehamilan berjalan normal resistensi saluran napas menurun sebesar 50%.

    1. Kulit

Sistem ekskresi pada kulit ibu hamil yaitu mengeluarkan keringan berlebih daripada biasanya. Hal ini mungkin disebabkan :

    • Peningkatan aliran darah dan metabolisme

Volume darah ibu hamil akan meningkat sekitar 40% atau lebih untuk menyesuaikan dengan kebutuhan janin. Terpompanya darah dalam jumlah yang lebih banyak ke seluruh tubuh ibu hamil ini bisa membuat suhu tubuh meningkat

    • Peningkatan berat badan

Rata-rata ibu hamil mengalami peningkatan berat badan sekitar 11-15 kg. Beban tambahan tersebut dapat membuat tubuh berkeringat lebih banyak

    • Faktor perubahan hormon

Peningkatan hormon disebut sebagai faktor penyebab dalam banyak kasus keluhan ketidaknyamanan selama kehamilan, termasuk keringat berlebih.

    • Semakin meningkatnya pertumbuhan bayi yang dikandung

Semakin besar usia kehamilannya, maka ukuran bayi yang dikandungnya pun akan semakin besar sehingga membuat ibu hamil merasa sesak napas atau pengap.

    • Kondisi hipertiroidisme atau infeksi

Kedua kondisi ini bisa membuat ibu hamil mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak, walaupun lebih jarang terjadi dibanding faktor-faktor lain di atas. Periksakanlah kepada dokter bila keringat mengganggu kenyamanan, atau bila diiringi gejala seperti demam, denyut jantung yang cepat, maupun perubahan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

    • Sedang stress

Stress dapat memicu produksi keringat tubuh. Ibu hamil harus mengontrol stres dengan baik selama kehamilan karena selain dapat memicu keringat, sehingga saat ibu hamil alami stress atau cemas, tubuh akan merespon dengan mengeluarkan keringat

    1. Perubahan pada pencernaan

Sistem gastrointestinal terpengaruh dalam beberapa hal karena kehamilan. Tingginya kadar progesteron mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolesterol darah, dan melambatkan kontraksi otot – otot polos. Sekresi salisa menjadi lebih asam dan lebih banyak, dan asam lambung menurun. Pembesaran uterus lebih menekan diafragma, lambung dan intestin. Pada bulan – bulan awal kehamilan, sebagian wanita mengalami mual dan muntah. Sebagaimana kehamilan berlanjut, penurunan asam lambung, melambatkan pengosongan lambung, dan mengakibatkan kembung. Menurunnya gerakan peristaltik tidak hanya menyebabkan mual tetapi juga konstipasi karena lebih banyak feses terdapat pada usus, lebih banyak air diserap makin akan semakin mengeras. Konstipasi bisa juga disebabkan oleh tekanan uterus pada usus bagian bawah pada awal masa kehamilan dan kembali pada akhir kehamilan. Sistem pencernaan pada kehamilan, wanita hamil sering mengeluhkan perubahan nafsu makan, jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi, dan toleransinya terhadap makanan tertentu.Walaupun beberapa perubahan mungkin dipengaruhi oleh faktor sosial budaya, faktor anatomi dan pengaruh hormon pada saluran pencernaan mengubah fungsi – fungsi yang biasa dijalankan oleh sistem pencernaan.

    1. Perubahan pada hati (liver)

                 Liver atau hati, yang berada di bagian pinggir rahim terdesak sehingga seolah-olah ukurannya mengecil. Akibatnya, kerja hati jadi tidak optimal dalam menyaring dan mengalirkan darah, zat – zat beracun di dalam darah pun tinggal lebih lama di tubuh, kulit pun kurang cantik dan terasa gatal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *