Sesak napas saat hamil trimester 2

Sesak napas saat hamil trimester 2 (2)
Sesak napas saat hamil trimester 2

Ketika paru-paru tidak cukup mendapat pasokan udara, Anda akan sesak nafas atau kesulitan bernafas. Akibatnya, napas jadi cepat, dangkal, dan kadang berbunyi “ngik-ngik”. Dada pun akan terasa nyeri. Terkadang banyak yang mengira jika sesak nafas itu sudah pasti asma. Padahal belum tentu. Sesak napas dapat muncul tiba-tiba (akut) atau bersifat kambuhan dalam jangka panjang (kronis), dan bisa diakibatkan sejumlah masalah kesehatan berbeda selain asma.

Penyebab sesak nafas yang sering muncul;

    1. Asma

Penyakit pernapasan yang disebabkan oleh peradangan dalam saluran udara (bronkus). Peradangan mengakibatkan bronkus menjadi bengkak, menyempit, dan terus memproduksi lendir berlebih. Sering merasa ngos-ngosan serta sulit bernafas lega.

    1. Keracunan karbon monoksida

Karbon monoksida tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengiritasi kulit dan mata, namun sangat berbahaya jika terlalu banyak mengendap di dalam tubuh. Gas ini sangat beracun dan mudah terbakar, berasal dari pembakaran gas, minyak, bensin, bahan bakar padat atau kayu. Setelah terhirup, karbon monoksida dapat terikat erat dalam hemoglobin darah 200 kali lebih kuat dibandingkan ikatan oksigen. Gas karbon monoksida akan ikut mengalir bersama darah ke seluruh tubuh, sehingga akan menyebabkan kerusakan sel dan jaringan karena kekurangan oksigen.

    1. Tamponade jantung (kelebihan cairan di sekitar jantung)

Tamponade jantung adalah kondisi darurat medis ketika darah atau cairan memenuhi ruang antara selaput tipis yang membungkus jantung (perikardium) dan otot jantung. Kondisi ini memberikan tekanan yang sanggat kuat pada jantung sehingga mengganggu fungsi jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Kurangnya pasokan darah ke jantung dan seluruh tubuh dapat menyebabkan berbagai gejala seperti sesak nafas, napas pendek, sakit pada dada (terutama pada bagian kiri dada), serta dada terasa penuh dan tertekan. Jika tidak segera ditangani, temponade jantung dapat menyebabkan syok, gagal jantung, kegagalan fungsi organ lainnya, bahkan kematian.

    1. Hernia hiatal

Hernia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bagian dalam tubuh yang menonjol keluar dari tempatnya. Hernia hiatal  adalah kondisi yang menyebabkan bagian atas perut menonjol hingga ke bagian pembukaan diafragma, otot pemisah perut dengan dada. Otot ini membantu agar asam lambung tidak naik ke kerongkongan. Jika seseorang memiliki hernia hiatal, maka asam lambung jadi lebih mudah naik. Naiknya asam lambung ke kerongkongan disebut dengan Gastroesophageal Reflux Disease  (GERD). Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi pada perut dan tenggorokan. Akibatnya, mungkin seringkali mengalami heartburn (dada terasa panas), sulit bernapas atau sesak nafas, sakit di area dada atau perut, sulit menelan, dan lain sebagainya.

    1. Gagal jantung

Gagal jantung merupakan suatu kondisi yang menggambarkan jantung yang tidak bisa berfungsi dengan baik dan tidak memompa darah ke seluruh tubuh secara efisien, diakibatkan karena adanya penyumbatan atau penyempitan yang terjadi pada pembuluh arteri koroner. Menyempitnya pembuluh darah ini mengakibatkan aliran darah yang membawa oksigen jadi terhambat. Akibatnya, jaringan tubuh tidak mendapat suplai oksigen yang cukup sehingga menimbulkan beberapa gejala seperti sesak napas, kelelahan, tidak fokus, hingga penumpukan cairan di dalam organ.

    1. Tekanan darah rendah (Hipotensi)

Suatu kondisi di mana tekanan darah pada arteri sangat rendah sehingga darah tidak dapat mengantarkan cukup oksigen dan nutrisi ke organ-organ tubuh. Aliran darah yang tersumbat membuat oksigen tidak dapat dialirkan ke seluruh tubuh. Hal ini yang kemudian menimbulkan gejala sesak napas.

    1. Emboli paru

Emboli paru adalah penyumbatan di salah satu arteri pulmonal di paru-paru. Kondisi ini menyebabkan aliran darah ke salah satu atau kedua sisi paru menjadi sangat terbatas sehingga membuat dada terasa sesak dan detak jantung meningkat, yang membuat kesulitan bernapas. Peradangan pada jaringan pembungkus paru-paru dan dinding dada (pleura) juga bisa menyebabkan nyeri dada yang terasa tajam.

    1. Pneumotoraks

Sebuah kondisi di mana ada pengumpulan udara yang mengalir di antara paru-paru dan dinding dada. Udara yang terkumpul tersebut dapat menekan paru-paru dan membuat paru-paru menjadi kolaps (mengempis). Peningkatan tekanan dinding paru-paru akan menghalangi paru-paru untuk mengembang saat kita menarik napas. Akibatnya, Anda akan mengalami sesak napas dan gejala lain seperti nyeri dada, jantung berdebar-debar, batuk, dan lain sebagainya.

    1. Pneumonia

Pneumonia atau infeksi pada paru-paru juga dapat menyebabkan sesak napas. Pneumonia adalah penyakit yang menyebabkan kantung udara di dalam paru-paru meradang, membengkak, hingga dipenuhi cairan. Kondisi ini dapat disebabkan karena infeksi bakteri, virus, atau jamur.

Namun berbeda dengan sesak nafas yang terjadi saat kehamilan. Sesak napas bisa terasa lebih parah karena diafragma mendapat tekanan dari rahim yang terus membesar. Namun, pernapasanmu sudah mulai membaik beberapa minggu menjelang persalinan, ketika bayi sudah mulai turun ke panggul. Di saat ini tubuhmu sudah terasa lebih ringan.

Berikut beberapa penyebab sesak napas yang terjadi saat hamil trimester 2:

    • Paru-paru tertekan oleh rahim.
    • Tubuh butuh lebih banyak oksigen karena saat ini bukan hanya ibu yang menghirupnya, bayi juga membutuhkannya. Hal ini bisa membuat ibu merasa harus menghirup banyak udara dengan menarik napas dalam-dalam.
    • Hormon progesteron dapat meningkat saat hamil. Hormon ini bisa menstimulasi pusat pernapasan yang ada di otak. Akibatnya jumlah udara yang dihirup dan dibuang saat bernapas lebih besar dibanding waktu tidak hamil, walaupun frekuensi pernapasan tidak banyak berubah.
    • Sesak napas dapat lebih parah jika bayi yang dikandung posisinya masih tinggi, hamil anak kembar atau memiliki cairan ketuban yang melimpah.
    • Peradangan asma. Bila ibu hamil punya riwayat penyakit asma sebelumnya, dia bisa mengalami asma kambuh ketika hamil dan membuatnya mengalami sesak napas. Hal ini juga bisa terjadi jika ibu mengalami infeksi saluran pernapasan yang membuatnya mengalami peradangan di organ tersebut.
    • Udara yang terlalu dingin bisa menjadi salah satu penyebab sesak napas saat hamil. Seperti AC yang terlalu dingin, sedang berada di daerah pegunungan yang sangat dingin. Udara dingin ini membuat metabolisme tubuh melemah dan memengaruhi paru-paru, sehingga aktifitas bernafas menjadi sulit dilakukan.

Cara Mengatasi Sesak Napas saat Hamil trimester 2

Agar tidak terlalu sesak napas, disarankan untuk melakukan sesuatu tanpa terburu-terburu, misalnya saat berjalan. Jangan pula memaksakan diri untuk melakukan banyak hal ketika sedang beraktivitas. Selain hal tersebut, lakukan juga tips berikut ini:

    • Tubuh yang tidak fit bisa membuat merasa sesak napas. Jadi, disarankan untuk melakukan olahraga ringan. Ingat, jangan melakukannya hingga kelelahan dan sulit untuk berbicara selagi berolahraga. Saat berolahraga bayi pun juga akan mendapat asupan oksigen yang cukup.
    • Ketika sesak napas, coba angkat lengan ke atas kepala. Gerakan ini bisa mengangkat tulang rusuk dan membuat menghirup lebih banyak udara.
    • Atur posisi duduk ketika sesak napas terjadi, duduklah dengan posisi tegak dengan menarik bahu ke belakang. Bukan menyandar ke belakang. Posisi duduk tegak ini bisa memberi ruang yang cukup bagi paru-paru untuk mengambil oksigen yang dibutuhkan.
    • Ketika tidur, cobalah untuk tidur dengan kepala yang agak naik. Untuk itu ibu bisa menambahkan bantal tambahan untuk sandaran kepala.
    • Mengatur nafas dan pikiran untuk rileks. Bila sesak napas yang dialami diakibatkan oleh stres, ambillah waktu untuk menenangkan diri. Atur napas dalam-dalam. Tenangkan pikiran, rilekskan tubuh. Hingga bernafas tidak lagi terasa sesak. Ambil waktu untuk istirahat dari kegiatan apapun yang sedang dilakukan.

Ibu tidak perlu khawatir berlebihan jika mengalami sesak napas atau takut bayi dalam kandungan tidak mendapati cukup oksigen. Ingat, selagi tidak mengalami sesak napas disertai gejala-gejala yang meresahkan, merasa sulit untuk bernapas merupakan hal normal dan tidak membahayakan bayi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *