Sebab-sebab mulainya persalinan

Sebab-sebab mulainya persalinan (1)
Sebab-sebab mulainya persalinan

Bagaimana terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulainya kekuatan his. Hormon-hormon yang dominan pada saat kehamilan yaitu:

Estrogen

Estrogen berfungsi untuk meningkatkan sensivitas otot rahim dan memudahkan penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin, rangsangan mekanis.

Progesteron

Progesteron berfungsi menurunkan sensivitas otot rahim, menyulitkan penerimaan rangsangan dari luar seperti oksitosin, rangsangan prostaglandin, rangsangan mekanis, dan menyebabkan otot rahim dan otot polos relaksasi. Pada kehamilan kedua hormon tersebut berada dalam keadaan yang seimbang, sehingga kehamilan bisa dipertahankan. Perubahan keseimbangan kedua hormon tersebut menyebabkan oksitosin yang dikeluarkan oleh hipofise parst posterior dapat menimbulkan kontraksi dalam bentuk Braxton Hicks. Kontraksi ini akan menjadi kekuatan yang dominan pada saat persalinan dimulai, oleh karena itu makin tua kehamilan maka frekuensi kontraksi semakin sering. Oksitosin diduga bekerja bersama atau melalui prostaglandin yang makin meningkat mulai umur kehamilan minggu ke-15 sampai aterm lebih-lebih sewaktu partus atau persalinan. Disamping faktor gizi ibu hamil dan keregangan otot rahim dapat memberikan pengaruh penting untuk mulainya kontraksi rahim.

Sebab-sebab yang menimbulkan persalinan antara lain :

    1. Teori Penurunan Hormon

Selama satu sampai dua minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim, dengan turunnya progesteron akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his yang akan mendorong hasil konsepsi keluar. Faktor-faktor hormonal, pengaruh prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengaruh syaraf dan nutrisi disebut sebagai faktor-faktor yang mengakibatkan partusmulai. Kadar prostaglandin meningkat sejak minggu ke-15 hingga aterm, lebih-lebih sewaktu partus.

    1. Teori Prostaglandin

Prostaglandin yang di hasilkan oleh decidua, menjadi salah satu sebab permulaan persalinan. Hasil dari percobaan menunjukan bahwa prostaglandin F2 atau E2 yg di berikan secara intravena, inta dan extramnial menimbulkan kontraksi myometrium pada setiap umur kehamilan. Hal ini juga di sokong dg adanya kadar prostaglandin yg tinggi baik dalam air ketuban maupun darah parifer pada ibu ibu hamil sebelum melahirkan atau selama persalinan.

    1. Teori Plasenta Menjadi Tua

Sama halnya dengan teori pertama dan teori menurunnya hormon yang dipengaruhi oleh plasenta menjadi tua yang juga mengakibatkan villi korealismengalami perubahan sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun.

    1. Teori Distensi Rahim

Kedaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang mengakibatkaniskemia otot-otot uterus. Hal ini memungkinkan terganggunya sirkulasi utero plasenta, sehingga plasenta mengalami degenersi.

    1. Teori Iritasi Mekanik

Adanya tekanan pada ganglion serviks dari pleksus frankenhouser yang terletak dibelakang serviks. Bila ganglion ini tertekan oleh kepala janin maka akan timbul kontraksi uterus.

    1. Teori berkurangnya nutrisi pada janin dikemukakan pertama kali oleh Hipokrates jika nutrisi berkurang maka hasil konsepsi akan segera dikeluarkan.
    2. Lightening

Terbenamnya kepala janin ke dalam rongga panggul karena berkurangnya tempat di dalam uterus dan sedikit melebarnya symphisis. Keadaan ini sering meringankan keluhan pernapasan serta heartburn dan pada primigravida akan terlihat pada kehamilan 36 minggu sementara pada multigravida akan terlihat pada kehamilan 36 minggu dan pada multipara baru tampak setelah persalinan dimulai mengingat otot-otot abdomen lebih kendor

    1. Kontraksi Braxton-Hicks

Kontaksi Braxton-Hicks pada saat uterus yang teregang dan mudah dirangsang itu menimbulkan distensi dinding abdomen sehingga dinding abdomen menjadi lebih tipis dan kulit menjadi lebih peka terhadap rangsangan

    1. Induksi Partum (Induction Of Labor)

Induksi partum dilakukan dengan merangsang pleksus frankenhouser dengan memasukan beberapa gram laminaria dalam kanalis servikalis, memecah ketuban, penyuntikan oksigen (sebaiknya dengan jalan infus), pemakaian prostaglandin dan sebagainya. Dalam induksi persalinan harus diperhatikan bahwa serviks sudah matang (sudah pendek dan lembek), juga serviks telah membuka untuk satu jari. Untuk menilai serviks dapat juga menggunakan skor orshop atau bishop skor. Bila nilai bishop lebih dari induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil.

Hamil dan melahirkan memang bukan merupakan suatu proses yang mudah. Anda tidak hanya menghadapi masalah saat hamil saja, tapi saat melahirkan Anda juga bisa mengalami komplikasi melahirkan. Tapi, jangan takut, semua hal ini akan tertutupi dengan kebahagiaan Anda melihat bayi Anda lahir dengan selamat.

Berbagai komplikasi melahirkan yang umum terjadi

Beberapa komplikasi melahirkan yang bisa terjadi adalah:

    1. Bayi sungsang

Saat usia kehamilan sudah mendekati waktu kelahiran, biasanya Anda perlu memeriksakan diri Anda ke dokter untuk melihat posisi bayi. Apakah posisi bayi sudah baik atau bayi sungsang? Posisi bayi yang baik saat dilahirkan adalah kepala bayi di bawah dan bayi menghadap ke bawah. Jika posisi bayi sungsang, maka akan disarankan untuk melakukan berbagai cara untuk mengembalikan bayi ke posisi seharusnya dengan cara alami. Namun, jika hal ini tidak berhasil dan posisi bayi masih sungsang saat akan dilahirkan, maka ini akan membuat proses melahirkan lebih rumit. Melahirkan dengan operasi caesar mungkin direkomendasikan pada saat ini.

2. Proses melahirkan yang terlalu lama

Melahirkan merupakan sebuah proses alami di mana setiap ibu pasti bisa melakukannya. Sebuah proses kelahiran yang lancar mungkin akan memakan waktu selama beberapa jam saja. Namun, beberapa ibu mungkin mengalami masalah pada leher rahimnya (sebagai jalan keluarnya bayi). Leher rahim ibu bisa mengalami kesulitan untuk berkembang dan membesar, sehingga bayi sulit untuk keluar dan proses melahirkan berjalan lebih lama. Proses melahirkan yang lebih lama ini tentu tidak baik jika dibiarkan. Risiko ibu mengalami infeksi (jika air ketuban sudah pecah) semakin besar. Untuk itu, dokter biasanya akan memberikan obat untuk membantu mempercepat proses melahirkan atau terkadang operasi caesar perlu dilakukan.

3. Prolaps tali pusar

Selama dalam kandungan, tapi pusar merupakan tumpuan hidup bayi. Tali pusar mengalirkan nutrisi dan oksigen dari ibu ke tubuh bayi sehingga bayi dapat tumbuh dan berkembang di dalam rahim ibu. Terkadang, selama proses melahirkan, tali pusar dapat masuk ke dalam rahim terlebih dulu sebelum bayi setelah air ketuban pecah. Tapi pusar bahkan bisa keluar lebih dulu di vagina dibandingkan bayi. Sehingga, kondisi ini sangat berbahaya bagi bayi Anda. Aliran darah yang masih berjalan dari tali pusar ke bayi dapat terganggu. Ini merupakan keadaan darurat bagi bayi.

4. Tali pusar melilit bayi

Karena bayi selalu bergerak di dalam kandungan, bayi mungkin bisa terlilit tali pusar. Tali pusar bisa melilit bayi dan terlepas dengan sendirinya berkali-kali selama kehamilan. Namun, tali pusar yang melilit bayi selama proses melahirkan mungkin bisa membahayakan bayi ketika terjadi penurunan aliran darah ke bayi karena tali pusar tertekan. Hal ini dapat menyebabkan detak jantung bayi menurun. Jika detak jantung bayi terus memburuk selama persalinan dan bayi menunjukkan tanda-tanda bahaya lainnya, melahirkan dengan cara caesar mungkin diperlukan.

5. Perdarahan berat

Setelah bayi berhasil dilahirkan, perdarahan bisa terjadi pada ibu. Perdarahan ringan normal terjadi, namun perdarahan berat dapat menjadi hal yang serius. Perdarahan yang berlebihan bisa disebabkan karena kontraksi rahim setelah melahirkan berjalan buruk, bagian plasenta yang masih tersisa dalam rahim, dan infeksi pada dinding rahim. Sehingga, hal ini mengakibatkan pembuluh darah yang terbuka saat plasenta lepas dari dinding rahim terus mengeluarkan darah. Perdarahan berlebih setelah melahirkan ini biasa disebut dengan perdarahan postpartum. Terdapat dua jenis perdarahan postpartum, yaitu primer atau langsung (perdarahan yang terjadi dalam waktu 24 jam setelah melahirkan) dan sekunder atau tertunda (perdarahan setelah 24 jam pertama sampai 6 minggu setelah melahirkan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *