Perubahan sistem pernafasan pada Bayi Baru Lahir

Perubahan sistem pernafasan pada Bayi Baru Lahir (2)
Perubahan sistem pernafasan pada Bayi Baru Lahir

Perubahan sistem pernafasan pada Bayi Baru Lahir

Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melewati paru – paru. Rangsangan gerakan pernafasan pertama terjadi karena tekanan mekanik dari toraks sewaktu melewati jalan lahir (stimulasi mekanik), penurunan Pa O2 dan kenaikan Pa CO2 memicu kemoreseptor yang terletak di sinus karotikus (stimilasi kimiawi), rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu di dalam uterus ( stumalasi sensorik) dan refleks deflasi hering breur. Pernafasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 menit pertama setelah lahir. Usaha bayi pertama kali untuk menjaga tekanan alveoli, selain adanya surfaktan yang dengan menarik nafas dan mengeluarkan nafas dan mengeluarkan nafas dengan merintih sehingga udara terbendung didalam. Respirasi pada neonatus seringkali pernafasan diagfragmatik dan abdominal, sementara frekuensi dan dalamnya belum teratur. Apabila surfaktan berkurang, maka alveoli akan kolaps dan paru-paru kaku sehingga terjadi atelektasis. Dalam keadaan anoksia neonatus masih dapat mempertahankan kehidupannya karena adanya kenjutan metabolisme anaerobik.

Perubahan sistem pernafasan ini diawali dari perkembangan organ paru – paru itu sendiri dengan perkembangan struktur bronkus, bronkeolus, serta alveolus yang terbentuk dalam proses kehamilan sehingga dapat menentukan proses pematangan dalam sistem pernapasan. Proses perubahan bayi baru lahir adalah dalam hal pernapasan yang dapat di pengaruhi oleh keadaan hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik ( lingkungan) yang merangsang pusat pernapasan medula oblongata di otak. Selain itu juga terjadi tekanan rongga dada karena kompresi paru selama persalinan, sehingga merangsang masuknya udara ke dalam paru, kemudian timbulnya pernapasan dapat terjadi akibat interaksi sistem pernapasan itu sendiri dengan sisitem kardiovaskuler dan susunan saraf pusat. Selain itu adanya surfaktan dan upaya respirasi dalam pernapasan dapat bermanfaat untuk mengeluarkan cairan dalam paru serta mengembangkan jaringan alveolus paru supaya dapat berfungsi. Surfaktan tersebut dapat mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu menstabilkan diding alveolus untuk mencegah kolaps.

Pada bayi baru lahir, kekuatan otot – otot pernapasan dan kemampuan diafragma untuk bergerak, secara langsung mempengaruhi kekuatan setiap inspirasi dan ekpirasi. Bayi yang baru lahir yang sehat mengatur sendiri usaha bernapas sehingga mencapai keseimbangan yang tepat antar-oksigen, karbon dioksida, dan kapasitas residu fungsional. Frekuensi napas pada bayi baru lahir yang normal ialah 40 kali permenit dengan rentang 30–60 kali permenit ( pernapasan diafragma dan abdomen ) jika frekuensi secara konsisten lebih dari 60 kali permenit, dengan atau tanpa cuping hidung, suara dengkur atau retraksi dinding dada, jelas merupakan respon abnormal pada 2 jam setelah kelahiran.

Rangsangan gerakan pernapasan pertama terjadi karena beberapa hal berikut :

    1. Tekanan mekanik dari torak sewaktu melalui jalan lahir (stimulasi mekanik)
    2. Penurunan PaO2 dan peningkatan PaO2 merangsang kemoreseptor yang terletak di sinus karotikus (stimulasi mekanik).
    3. Rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu di salam uterus ( stimulasi sensorik).
    4. Refleks deflasi Hering Breur.

Pada waktu bayi lahir, dinding alveoli disatukan oleh tegangan permukaan cairan kental yang melapisinya. Diperlukan lebih dari 25 mmHg tekanan negatif untuk melawan pengaruh tegangan permukaan tersebut dan untuk membuka alveoli untuk pertama kalinya. Tetapi sekali membuka alveoli, pernapasan selanjutnya dapat di pengaruhi pergerakan pernapasan yang relatif lemah. Untungnya pernapasan bayi baru lahir yang pertamakali sangat kuat, biasanya mampu menimbulkan tekanan negatif sebesar 50 mmHg dalam ruang intrapleura.

    1. Perkembangan paru-paru

Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabang kemudian bercabang kembali menyusun struktur percabangan bronkus, proses ini terus berlanjut hingga sekitar usia 8 tahun, sampain jumlah bronkus dan alveolus akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan nafas selama trimester dua dan trimester tiga. Paru – paru yang tidak matang akan mengurangi kelangsungan hudip BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini di sebabkan karena keterbatasan permukaan alveolus, ketidak matangan sistem kaviler, paru-paru yang tidak tercukupinya jumlah surfaktan.

2. Awal adanya nafas

Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan napas  pertama bayi adalah :

    1. Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat pernafasan di otak.
    2. Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan, yang merangsang masuknya udara, ke dalam paru-paru secara mekanis. Interaksi antara sistem pernafasan, kardiovaskuler, dan susunan saraf pusat menimbulkan pernafasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang di perlukan untuk kehidupan.
    3. Penimbunan karbondioksida ( CO2)

Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan merangsang pernafasan. Berkurangnya O2 akan mengurangi  gerakan nafas janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan tingkat gerakan pernapasan janin.

    1. Perubahan suhu

Keadaan dingin akan merangsang pernafasan.

3. Surfaktan dan upaya resfirasi untuk bernafas

Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :

    1. Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
    2. Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali

Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat surfaktan ( lemak lesitin/sfingomielin) yang cukup dan aliran darah ke paru – paru. Produksi surfaktan di mulai pada 20 minggu kehamilan, yang jumlahnya bertambah sampai paru – paru matang ( sekitar 30-34 minggu kehamilan). Fungsi surfaktan ialah untuk meminimalisir tekanan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasaan. Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat akhir pernapasan, yang menyebabkan sulit bernapas.  Peningkatan kebutuhan ini memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Bebagai peningkatan ini menyebabkan stres pada bayi uyang sebelumnya sudah terganggu.

4. Dari cairan menuju udara

Bayi cukup bulan mempunyai cairan di paru-parunya. Pada saat beyi melewati jalan lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini di peras keluar dari paru-paru. Seorang bayi yang di lahirkan secara SC kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada dan dapat menderita paru-paru basah dalam jangka waktu yang lebih lama. Dengan beberapa kali tarikan nafas yang pertama udara memenuhi ruangan trakhea dan brokus BBL. Sisa cairan di paru-paru di keluarkan dari paru-paru dan di serap oleh pembuluh limpe dan darah.

5. Fungsi sistem pernafasan dan kaitannya dengan fungsi kardiovaskuler

Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting dalam mempertahankan kecukupan pertukaran udara. Jika ditemukan hipoksia, pembuluh darah paru – paru akan mengalami vasokontriksi. Jika hal ini terjadi, berarti tidak terdapat pembuluh darah yang terbuka guna menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga mengakibatkan penurunan oksigen jaringan, yang akan memperburuk hipoksia. Peningkatan darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan akan membantu menghilangkan cairan paru – paru dan akan merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *