Perubahan Sistem hematologi pada Bayi

Perubahan Sistem hematologi pada Bayi (1)
Perubahan Sistem hematologi pada Bayi

Perubahan Sistem hematologi pada Bayi

Hematologi ialah ilmu yang mempelajari mengenai darah serta jaringan yang menyusun darah. Darah merupakan bagian penting dari sistem transport. Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan yang terdiri dari 2 bagian besar yaitu plasma darah dan butir – butir darah. Plasma darah adalah bagian cair darah yang sebagian besar besar terdiri dari air, elektrolit, dan protein darah. Sedangkan butir – butir darah (blood corpuscles) terdiri atas komponen – komponen :

    • Eritrosit yaitu sel darah merah (red blood cell)
    • Leukosit yaitu sel darah putih (white blood cell)
    • Trombosit yaitu butir pembeku darah atau platelet

Dalam arti lain hematologi juga dikenal sebagai cabang ilmu kedokteran mengenai sel darah, organ pembentuk darah, dan kelainan yang berhubungan dengan sel serta organ pembentuk darah. Setiap orang mengetahui bahwa pendarahan pada akhirnya akan berhenti saat terjadi luka atau terdapat luka lama yang mengeluarkan darah kembali. Saat pendarahan berlangsung, gumpalan darah beku akan segera terbentuk dan mengeras, dan luka pun pulih seketika. Sel darah dibagi menjadi 3 kategori yaitu Sel darah merah berfungsi mengangkut oksigen, sel darah putih berfungsi menghasilkan antibodi, dan keping darah berperan penting dalam koagulasi darah.

Gangguan atau kelainan darah yang harus diwaspadai :

    1. Penyakit turunan yang menyebabkan penurunan jumlah hemoglobin
    2. Polycythemia vera. Kanker darah yang disebabkan oleh mutasi gen
    3. Kanker darah yang disebabkan produksi sel darah putih di dalam sumsum tulang belakang meningkat.
    4. Penyakit keturunan yang menyebabkan terus mengalami perdarahan jika terjadi luka atau gangguan pada pembekuan darah.
    5. Kanker darah yang bekerja pada sistem limfatik tubuh. Sel darah putuh tumbuh dalam jumlah banyak dan tidak bisa dikontrol lagi
    6. Myelodysplastic syndrome (MDS). Gangguan awal sebelum terjadi leukimia
    7. Primary thrombocythemia. Darah mudah membeku dan membentuk gumpalan.
    8. Plasma cell myeloma. Gangguan pada sel plasma yang berada pada sumsum tulang belakang
    9. Von Willebrand disease. Gangguan yang disebabkan oleh faktor keturunan, dimana saat tubuh mengalami luka, darah akan susah mengering
    10. Kekurangan sel darah merah

Sistem Hematologi Pada Fetus

Aliran darah fetal bermula dari vena umbilikalis, akibat tahanan pembuluh paru yang besar (lebih tinggi dibanding tahanan vascular sistemik) hanya 10% dari keluaran ventrikel kanan yang sampai paru, sedangkan sisanya (90%) terjadi shunting kanan ke kiri melalui duktus arteriosus bottali.

Pada waktu bayi lahir, terjadi pelepasan dari plasenta secara mendadak (saat umbilical cord dipotong/dijepit), tekanan atrium kanan menjadi rendah, tahanan pembuluh darah sistemik (SVR) naik dan pada saat yang sama paru mengembang,tahanan vascular paru menyebabkan penutupan foramen ovale menutup setelah beberapa minggu, aliran darah di duktus arteriosus bottali berbalik dari kiri ke kanan. Kejadian ini disebut sirkulasi transisi. Penutupan duktus arteriosus secara fisiologis terjadi pada umur bayi 10-25 jam yang di sebabkan kontraksi otot polos pada akhir atreri pulmonalis dan secara anatomis pada usia 2-3 minggu.

Pada neonatus, reaksi pembuluh darah masih sangat kurang sehingga keadaan kehilangan darah, dehidrasi,dan kelebihan volume juga sangat kurang untuk di toleransi. Manajemen cairan pada neonatus harus dilaksanakan dengan seksama dan teliti. Tekanan sistolik adalah indicator yang baik untuk menilai sirkulasi volume darah dan dipergunakan sebagai parameter yang adekuat terhadap penggantian volume. Otoregulasi aliran darah otak pada bayi baru lahir tetap terpelihara normal pada tekanan sistemik antara 60-130 mmHg. Frekuensi nadi bayi rata-rata 120x/menit dengan tekanan darah sekitar 80/60mmHg.

Perubahan pada Sistem Peredaran Darah

Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan mengadakan sirkulasi  melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus terjadi dua perubahan besar, yaitu sebagai barikut :

Sistem sirkulasi darah janin yaitu melalui

    1. Vena umbilical. Berasal dari korda umbilika ke sisi bawah hati dan bawah darah kaya akan oksigen dan nutrisi. Vena ini punya satu cabang yang menghubungkan vena porta dan menyuplai hati.
    2. Ductus Venosus (dari vena ke vena). Menghubungkan vena umbilikal ke vena cava inverior. Pada titik ini, darah tercampur dengan darah deogsigenasi yang kembali dari bagian bawah tubuh.jadi, darah terogsigenasi dengan baik .
    3. Foramen ovale. Foramen ovale adalah lubang sementara antara atrium yang merupakan jalan masuk mayoritas darah dari vena cava inferior menyebrang ke dalam atrium kiri. Alasan pengalihan ini adalah darah tidak perlu melalui paru-paru untuk mengumpulkan oksigen.
    4. Duktus arteriosus (dari arteri ke arteri). Duktus dari arah dua percabangan arteri pulmoner ke aorta desenden, masuk ke titik dibawah tempat terdapat arteri subklavia dan arteri carotid.
    5. Arteri hipogastik. Percabangan dari arteri iliaka interna dan jadi arteri umbilikal saat percabangan ini masuk ke korda umbilical.Percabangan ini megembalikan darah ke plasenta. Darah perlu waktu 1,5 menit untuk bersikulasi dan melalui perjalanan berikutnya.

Adaptasi ke kehidupan ekstrauterin

    1. Setelah anak lahir anak bernapas untuk pertama kalinya.maka, terjadilah penurunan tekanan dalam arteri pulmonalis sehingga banyak darah yang mengalir ke paru-paru.
    2. Ductus arteriosus tertutup satu sampai dua menit setelah anak bernapas
    3. Dengan terguntingnya tali pusat, darah dalam vena cava inferior berkurang. Dengan demikian, tekanan dalam atrium atau serambi kanan berkurang.
    4. Sebaliknya, tekanan dalam atrium kiri bertambah sehingga menyebabkan penutupan voramen ovale.
    5. Sisa ductus arteri menjadi ligamentum arteriosus.
    6. Sisa ductus venosus menjadi ligamentum teres hepatic.
    7. Arteri umbilikal menjadi ligamentum pesikoumbilical lateral kiri dan kanan.

Struktur anatomi khas sirkulasi fetal, paru tidak berfungsi selama kehidupan fetal dan hati hanya berfungsi sebagian, maka tidak perlu untuk jantung fetus untuk memompa banyak darah baik melewati paru atau hati. Sebaliknya jatung fetus harus memompa darah dalam jumlah yang besar melalui plasenta. Oleh sebab itu, rangkaian anatomi sistem sirkulasi fetal bekerja sangat berbeda dengan sistem sirkulasi orang dewasa.

    • Peredaran darah

Pada masa fetus, peredaran darah dimulai dari plasenta melalui vena umbilikalis lalu sebagian ke hati dan sebagian lainnya langsung ke serambi kiri jantung, kemudian ke bilik kiri jantung. Dari bilik kiri darah di pompa melalui aorta ke seluruh tubuh, sedangkan yang dari bilik kanan darah di pompa sebagian ke paru dan sebagian melalui duktus arteriosus ke aorta.

Setelah bayi lahir, paru akan berkembang yang akan mengakibatkan tekanan arteriol dalam paru menurun yang diikuti dengan menurunnya tekanan pada jantung kanan. Kondisi ini menyebabkan tekanan jantung kiri lebih besar dibandingkan dengan tekanan jantung kanan, dan hal tersebutlah yang membuat foramen ovale secarafungsional menutup. Hal ini terjadi pada jam-jam pertama setelah kelahiran. Oleh karena tekanan dalam paru turun dan tekanan dalam aorta desenden naik dan juga karena rangsangan biokimia (PaO2 yang naik) serta duktus arteriosus yang berobliterasi. Hal ini terjadi pada hari pertama.

Aliran darah paru pada hari pertama kehidupan adalah 4-5 liter per menit/m². Aliran darah sistolik pada hari pertama rendah yaitu 2,96 liter/menit/m² dan bertambah pada hari kedua dan ketiga (3,54 liter/m²) karena penutupan duktus arteriosus. Tekanan darah pada waktu lahir di pengaruhi oleh jumlah darah yang melalui transfuse plasenta yang pada jam-jam pertama sedikit menurun, untuk kemudian naik lagi dan menjadi konstan kira-kira 85/40 mmHg.

    • Transisi Pada Darah

Pada umumnya bayi baru lahir ( BBL) dilahirkan dengan nilai hemoglobin ( Hb) yang tinggi. Hemoglobin F ialah Hb yang berpengaruh pada periode janin, tetapi akan lenyap pada satu bulan pertama kehidupan selama beberapa hari pertama. Nilai Hb akan meningkat sedangkan volume plasma akan menurun, akibatnya hematokrit normal hanya pada 51 – 56% neonatus. Pada saat kelahiran meningkat dari 3% manjadi 6% , pada minggu ke-7 sampai ke-9 setelah bayi baru lahir akan turun perlahan. Nilai Hb untuk bayi berusia 2 bulan rata-rata 12 g/dl.

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai hemoglobin pada bayi baru lahir :

    1. waktu pengkleman tali pusat. Penundaan pengkleman tali pusat dapat meningkatakan volume darah neonotus 25-40% , keuntungan penundaan pengkleman :
      • Volume yang besar meningkatkan perfusi kapiler baru
      • Berlanjutnya bolus darah teroksigenasi selama nafas pertama yang tidak teratur.

2. Pencapaian oksigenasi adekuat yang lebih cepat membuat penutupan struktur janin.

3. Posisi bayi baru lahir segera setelah lahir

Sedangkan darah merah BBL memiliki umur yang singkat , yaitu 80 hari , sedangkan sel darah merah orang dewasa 120 hari. Pergantian sel yang cepata ini menghasilkan lebih banyak sampah metabolic akibat penghancuran sel termasuk bilirubin yang harus di metabolisme. Muatan bilirubin yang berlebihan ini mengakibatkan ikterus fisiologis yang tampak pada bayi baru lahir. Oleh sebab itu, terdapat hitung retukulosit yang tinggi pada bayi baru lahir yang menggambarkan pembentukan sel darah merah baru dalam jumlah besar.

Sel darah putih rata-rata pada bayi baru lahir memiliki rentang dari 10.000 hingga 30.000/mm. peningkatan lebih lanjut dapat terjadi pada BBL normal selama 24 jam pertama kehidupan. Pada saat menangis yang lama juga dapat mengakibatkan hitung sel darah putih berisi granulosit dalam jumlah yang besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *