Perubahan sirkulasi pada fetus

Perubahan sirkulasi pada fetus (2)
Perubahan sirkulasi pada fetus

Adaptasi Fisiologis Fetus (Janin)

Perubahan sirkulasi

Pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi

Kehamilan normal biasanya berlangsung kira – kira 10 bulan atau 9 bulan kalender, atau 40 minggu. Pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu, keadaan janin itu sendiri dan plasenta sebagai akar yang akan memberikan nutrisi. Usia janin yang sebenarnya dihitung dari saat fertilisasi atau sekurang – kurangnya dari saat ovulasi. Pertumbuhan hasil konsepsi dibedakan menjadi tiga tahap penting yaitu tingkat ovum (telur) usia 0 sampai 2 minggu, dimana hasil konsepsi belum tampat terbentuk pertumbuhannya, Embrio antara usia 3 sampai 8 minggu dan sudah terdapat rancangan terbentuk alat – alat tubuh dan janin (fetus) sudah terbentuk manusia dan berumur di atas 8 minggu.

Ada beberapa perubahan sirkulasi terhadap fetus (janin), seperti perubahan sirkulasi tali pusat, sirkulasi plasenta, dan sirkulasi darah fetus. Berikut penjelasaanya :

    1. Sirkulasi tali pusat

Tali pusat terletak antar pusat janin dan permukaan fuetal plasenta. Warnanya dari luar putih, merupakan tali yang berpilin. Panjangnya sekitar 55 cm (30 sampai 100 cm) dan garis tengahnya 1 sampai 2 cm. Tali pusat diliputi amnion yang sangat erat melekat, terdiri dari 2 arteri dan 1 vena. Terdiri dari zat seperti agar – agar yang disebut selewharton yang mencegah kompresi pembuluh darah, sehingga pemberian makanan yang continue untuk janin dapat terjamin. Kompresi dapat terjadi, jika korda terletak antara kepala janin dan pelvis atau terpelintir disekitar tubuh janin. Korda yang melilit leher janin disebut korda nikal (nuchal cord). Insersi tali pusat pada plasenta terdiri dari :

      1. Insersio sentralis (berada di tengah plasenta)
      2. Insersio para sentralis (sedikit ke samping)
      3. Insersio lateralis (berada di samping)
      4. Insersio marginalis (berada di pinggir)
      5. Insersio velamentosa (berada di luar plasenta atau di selaput janin)

2. Sirkulasi Plasenta

Sirkulasi embrio – plasenta – ibu terjadi pada hari ke 17, saat jantung embrio mulai berdenyut. Pada minggu ke 3, darah embrio bersirkulasi diantara embrio dan villi korion.

Darah fenosa (tanpa oksigen) meninggalkan janin melalui arteri umbilikalis dan masuk ke dalam plasenta. Di dalam villi ia membentuk sistem arteri – kapiler – vena. Villi ini terbenam dalam lacuna (pada saat ini adalah spasium intervilosum) sehingga sebenarnya tidak terdapat percampuran darah antara darah vena janin dan darah ibu. Darah arteri (teroksigenasi) masuk ke dalam janin melalui vena umbilikalis. Darah maternal masuk ke dalam spasium intervilosum dengan cara menyemprot. Karena perbedaan tekanan yang tinggi antara tempat masuknya darah (60 – 7- mmHg) dengan tekanan diantara villi (20 mmHg) maka darah sempat berputar disekitar villi. Pada saat inilah pertukaran gas dan nutrient antara janin dan ibu terjadi. Selanjutnya darah maternal masuk kembali melalui vena dalam endometrium. Kecepatan aliran darah uteroplasenta naik selama kehamilan, dari yang sebelumnya sekitar 50 ml per menit pada minggu ke 10 sampai 500 – 600 ml per menit pada saat aterm.

Fungsi utama plasenta :

    1. Alat metabolisme

Terutama pada saat kehamilan muda. Plasenta memproduksi glikogen, kolesterol, dan asam lemak yang merupakan persediaan nutrisi dan energi untuk janin.

2. Alat transfer

Ada 5 mekanisme zat lewat selaput plasenta yaitu :

  • Difusi sederhana

Difusi sederhana tergantung pada perbedaan kadar, konstanta difusi dan luar permukaan difusi. Zat – zat yang lewat plasenta dengan cara ini adalah oksigen, karbon dioksida, karbon monoksida. Beberapa senyawa atau obat dengan molekul kecil dapat juga melewati dengan cara ini. Karena heparin bermolekul besar , ia tidak dapat melewati plasenta.

  • Difusi yang dipercepat atau dipermudah

Contoh yang nyata adalah transport glukosa dari ibu ke janin

  • Transport aktif

Zat yang lewat dengan transport aktif antara lain adalah asam amino esensial dan vitamin yang larut dalam air

  • Pinositosis

Pinositosis adalah suatu bentuk transport dengan cara memasukkan zat secara utuh

  • Kebocoran

Ini terjadi karena adanya kerusakan pada villi, sehingga selaput plasenta robek. Contoh pada saat persalinan, pada saat ini sel darah janin dapat dengan mudah memasuki sirkulasi maternal

  1. Sirkulasi darah fetus (janin)

Darah yang sudah direoksigenasi meninggalkan plasenta melalui vena umbilikala, vena umbilikala berjalan di dalam tali pusat ke umbillicus dan dari sana ada vena kecil yang berjalan ke porta hepatis. Hampir tidak darah masuk ke dalam hati sebab vena umbilika langsung bersambung dengan vena kava inverior melalui sebuah pembuluh besar, yang disebut duktus venosus, sebuah struktur yang hanya ada pada masa fetus. Setelah di dalam vena kava inferior :

Darah berjalan ke atas dan mencapai atrium kanan. Sebagian besar darah bukan masuk ke dalam ventrikel kanan (sebagaimana anggapan berdasarkan pengetahuan tentang sirkulasi pada orang dewasa), bukan pada atrium kiri, tetapi melalui lubang fetal yang hanya untuk sementara ada di dalam septum interatrial, yang disebut feramen ovale.

Setelah mencapai atrium kiri, masuk melalui katup mitral ke dalam ventrikel kiri. Kontraksi ventrikel kiri mendorong darah masuk ke dalam aorta asendens. Dari sini sebagian besar darah didistribusikan ke jantung, otak dan anggota tubuh lain. Masuk ke dalam aorta torasika – abdominalis desendens. Setelah beredar dalam otak dan anggota tubuh lain, darah kembali ke jantung melalui vena kava superior. Dan mencapai atrium kanan. Setelah berjalan ke atrium kanan kemudian melalui lubang tricuspid masuk ke dalam ventrikel kanan. Setelah itu darah dipompa masuk ke dalam arteri pulmonalis.

Sebenarnya paru – paru dalam fetus tidak aktif dan menerima hanya sedikit darah, sebagian besar dari darah dalam arteri pulmonalis disalurkan langsung ke dalam aorta melalui sebuah arteri besar yang disebut duktus arterious yang bergabung dengan aorta dekat akhir lekung aorta. Aorta torasika desendens. Kemudian darah dalam aorta diedarkan ke visera dalam abdomen melalui cabang – cabang bawah aorta. Tetapi didalam fetus sebagian besar darah yang mencapai bifurkasi aorta, tidak mengalir ke visera pelvis dan anggota tubuh lain. Di dalam plasenta ini terjadi pertukaran dengan darah ibu diseberang plasenta.

Fetus membuat darahnya sendiri dan selama plasenta lengkap tidak terjadi pencampuran. Setelah mengalir melalui kapiler – kapiler plasenta, darah mengalir lagi ke fetus. Beberapa perubahan tertentu terjadi pada saat kelahiran. Cuping yang seperti katub yang menjaga foramen ovale, menutup dan atrium kanan dan kiri terpisah secara permanen. Duktus arteriosus mengerut kemudian hilang dan mengalami fibrosis. Dua lubang itu yang pada masa fetus adalah normal. Sesudah tali pusat dipotong dan diikat, darah akan berhenti mengalir dalam arteri, vena umbillica, dan dalam ductus venosus. Semua struktur itu mengerut dan diganti oleh benang dari jaringan fibrus. Ligamentum teres dari hati pada hakikatnya adalah sisa dari vena umbilika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *