Perubahan Fisiologis Masa Nifas

Perubahan Fisiologis Masa Nifas (1)
Perubahan Fisiologis Masa Nifas

Perubahan Fisiologis Masa Nifas

Perubahan Sistem Reproduksi

    1. Uterus
    • Pengerutan rahim (involusi)

Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus pada kondisi sebelum hamil. Dengan involusi uterus ini, lapisan luar dari desidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi neurotic (layu atau mati)

Perubahan ini dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan palpasi untuk meraba dimana TFU nya (tinggi fundus uteri). Perubahan ini berhubungan erat dengan perubahan miometrium yang bersifat proteolisis.

Involusi uterus terjadi melalui tiga proses yang bersamaan , antara lain:

      • Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uteri
      • Atrofi jaringan. Jaringan yang berproliferasi dengan adanya esterogen dalam jumlah besar, kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap penghentian produksi esterogen yang menyertai pelepasan plasenta.
      • Efek oksitosin (kontraksi). Intensitas kontraksi uterus meningkat segera setelah bayi lahir. Hal tersebut diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterine yang sangat besar. Pemberian ASI segera setelah bayi lahir akan merangsang pelepasan oksitosin karena isapan bayi pada payudara.
    • Lokhea

Lokhea adalah sekresi cairan rahim selama masa nifas. Lokhea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus. Lokhea yang berbau tidak sedap menandakan adanya infeksi. Lokhea mempunyai perubahan warna dan volume karena adanya proses involusi uterus.

Lokhea dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan warna dan waktu keluarnya :

      • Lokhea rubra

Lokhea ini berwarna merah. Keluar pada hari pertama sampai hari keempat masa post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena berisi darah segar, jaringan sisa – sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium.

      • Lokhea sanguinolenta

Lokhea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir, serta berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post partum

      • Lokhea serosa

Lokhea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta. Keluar pada hari ke-7 sampai hari ke-14

      • Lokhea alba

Lokhea ini berwarna putih. Lokhea ini mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati. Lokhea alba ini dapat berlangsung selama 2 sampai 6 minggu post partum

Lokhea yang menetap pada awal periode post partum menunjukkan adanya tanda – tanda perdarahan sekunder yang mungkin disebabkan oleh tertinggalnya sisa atau selaput plasenta. Lokhea alba atau serosa yang berlanjut dapat menandakan adanya endometritis, terutama bila disertai dengan nyeri pada abdomen dan demam. Bila terjadi infeksi akan keluar cairan nanah berbau busuk disebut dengan ” lokhea purulenta “. Pengeluaran lokhea yang tidak lancar disebut dengan ” lokhea statis “.

    • Perubahan pada serviks

Perubahan yang terjadi pada serviks ialah bentuk serviks sedikit menganga seperti corong, segera setelah bayi lahir. Bentuk ini disebabkan oleh corpus uteri yang dapat menimbulkan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah diantara corpus dan serviks berbentuk semacam cincin.

Serviks berwarna merah kehitaman karena dipenuhi dengan pembuluh darah. Konsistensinya lunak, terkadang terdapat laserasi atau perlukaan kecil. Karena robekan kecil yang terjadi selama berdilatasi maka serviks tidak akan bisa kembali seperti keadaan sebelum hamil. Muara serviks yang berdilatasi sampai 10 cm sewaktu persalinan akan menutup secara perlahan dan bertahap. Setelah bayi lahir, tangan dapat masuk ke dalam rongga rahim. Setelah 2 jam, hanya dapat memasuki 2 sampai 3 jari. Pada minggu ke-6 post partum, serviks sudah menutup kembali.

2. Vulva dan Vagina

Vulva dan vagina mengalami penekanan, serta peregangan yang sangat besar selama proses persalinan. Dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu, vulva dan vagina kembali seperti semula dan rugae dalam vagina secara bertahap akan muncul kembali, sementara labia menjadi lebih menonjol.

Pada masa nifas biasanya terdapat luka pada jalan lahir. Luka pada vagina umumnya tidak seberapa luas dan akan sembuh secara perpriman (sembuh dengan sendirinya), kecuali jika ada infeksi. Infeksi mungkin menyebabkan sellulitis yang dapat menjalar sampai terjadi sepsis.

    1. Perineum

Setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke – 5, tonus otot perineum sudah kembali, meskipun sedikit kendur dari keadaan sebelum hamil.

Perubahan Sistem Pencernaan

Biasanya ibu akan  mengalami konstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan karena pada waktu persalinan organ pencernaan mengalami tekanan yang menyebabkan usus menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebih saat persalinan, kurangnya asupan cairan dan makanan, serta kurangnya kurangnya aktivitas tubuh.

Agar buang air besar kembali normal, dapat diatasi dengan diet tinggi serat, peningkatan asupan cairan, dan ambulasi awal. Jika tidak berhasil, dalam 2 sampai 3 hari dapat diberikan obat. Selain konstipasi ibu juga akan mengalami anoreksia akibat penurunan sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi, serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan kurang nafsu makan.

Perubahan Sistem Perkemihan

Setelah persalinan berlangsung, biasanya ibu akan sulit untuk buang air kecil dalam 24 jam pertama. Kemungkinan penyebabnya adalah terdapat spasme sfinkter dan edema leher kandung kemih akibat mengalami kompresi (tekanan) antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan berlangsung. Urine dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam 12 sampai 36 jam post partum. Kadar hormon esterogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan. Kondisi tersebut disebut ” diuresis “. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam 6 minggu.

Kandung kemih pada masa nifas menjadi kurang sensitif dan kapasitas bertambah sehingga setiap buang air masih tertinggal urine residual (normal kurang dari 15 cc). Dalam hal ini, sisa urine dan trauma pada kandung kemih sewaktu persalinan dapat menyebabkan infeksi.

Perubahan Sistem Muskuloskeletal

Otot – otot uterus yang berkontraksi setelah partus akan membuat pembuluh darah yang berada diantara otot – otot uterus terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta lahir. Ligamen – ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang meregang pada waktu persalinan secara perlahan akan menciut dan pulih kembali sehingga tak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendor. Tidak jarang ada wanita mengeluh ” kandungannya turun ” setelah melahirkan karena ligamen, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi kendor. Akan menjadi stabil setelah 6 sampai 8 minggu pasca persalinan.

Untuk memulihkan kembali jaringan – jaringan penunjang alat genetalia, serta otot – otot dinding perut dan dasar panggul, dianjurkan untuk melakukan latihan – latihan tertentu.

Perubahan Sistem Endokrin

    • Hormon plasenta

Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. HCG (Human Chorionic Gonadotropin) menurun cepat sampai 10 % dalam 3 jam hingga hari ke-7 post partum.

    • Hormon pituitary

Prolaktin darah akan meningkat dengan cepat. Pada wanita yang tidak menyusui, prolaktin menurun dalam waktu 2 minggu. FSH (Follicle Stimulating Hormone) akan meningkat pada minggu ke-2 dan LH (Luteinizing Hormone) tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

    • Hypotalamik pituitary ovarium

Lamanya seorang wanita mendapat menstruasi juga dipengaruhi oleh faktor menyusui. Seringkali menstruasi pertama ini bersifat anovulasi karena rendahnya kadar esterogen dan progesteron.

    • Kadar esterogen

Setelah persalinan terjadi penurunan kadar esterogen sehingga aktivitas prolaktin yang juga sedang meningkat dapat mempengaruhi kelenjar mamae dalam menghasilkan ASI.

Perubahan Tanda Vital

    1. Suhu badan

Dalam 24 jam pertama post partum suhu badan sedikit akan naik (37,5˚ sampai 38˚C) akibat kerja keras saat melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Hari kedua suhu menjadi normal. Biasanya pada hari ke-3 suhu badan kembali naik karena adanya pembentukan ASI. Payudara menjadi bengkak dan berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun, kemungkinan adanya infeksi pada endometrium (mastitits, tractus genitalis, atau sistem lain).

    1. Nadi

Denyut nadi pada orang dewasa adalah 60 sampai 100 kali per menit. Denyut nadi setelah melahirkan akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit adalah abnormal, hal ini menunjukkan adanya kemungkinan infeksi.

    1. Tekanan darah

Tekanan darah tidak berubah. Kemungkinan tekanan darah akan rendah karena adanya perdarahan. Tekanan darah yang tinggi pada saat post partum menandakan terjadinya preeklamsia post partum.

    1. Pernapasan

Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut nadi. Jika suhu dan nadi tidak normal maka pernapasan juga akan mengikuti, kecuali jika ada gangguan khusus pada saluran pernapasan.

Perubahan Sistem Kardiovaskuler

Selama kehamilan volume darah normal digunakan untuk menampung aliran darah yang meningkat, yang diperlukan oleh plasenta dan pembuluh darah uteri. Pada persalinan tubuh akan kehilangan darah sekitar 200 sampai 500 ml, sedangkan pada SC pengeluaran bisa dua kali lipatnya. Perubahan terdiri dari volume darah dan kadar Hmt (haematokrit).

Setelah persalinan volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan menyebabkan beban pada jantung dan akan menimbulkan decompensatio cordis pada pasien dengan vitum cardio. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan tumbuhnya haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti semula. Umumnya ini terjadi pada 3 sampai 5 dari post partum.

Perubahan Sistem Hematologi

Selama minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma, serta faktor pembekuan darah makin meningkat. Pada hari pertama post partum kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah akan mengental sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosis yang meningkat dapat mencapai 15.000 selama proses persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari postpartum. Jumlah sel darah tersebut masih bisa meningkat lagi sampai 25.000 sampai 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan yang lama.

Jumlah HB, Hmt, dan erytrosit sangat bervariasi pada saat awal – awal masa post partum sebagai akibat dari volume darah, plasenta, dan tingkat volume darah yang berubah – ubah. Tingkatan tersebut dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi. Selama persalinan dan post partum terjadi kehilangan darah sekitar 200 sampai 500 ml. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan Hmt dan Hb pada hari ke-3 sampai hari ke-7 post partum, dan akan kembali normal dalam 4 sampai 5 minggu post partum.

Pada masa nifas terjadi perubahan komponen darah, misalnya jumlah sel darah putih akan bertambah. Jumlah sel darah merah dan Hb akan berfluktuasi, namun dalam 1 minggu pasca persalinan biasanya semuanya akan kembali pada keadaan semula. Curah jantung atau jumlah darah yang dipompa oleh jantung akan tetap tinggi pada awal masa nifas dan dalam 2 minggu akan kembali normal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *