Perubahan Anatomi dan Adaptasi Fisiologi Pada Ibu Hamil

Perubahan Anatomi dan Adaptasi Fisiologi Pada Ibu Hamil (1)
Perubahan Anatomi dan Adaptasi Fisiologi Pada Ibu Hamil

Perubahan Anatomi Dan Adaptasi Fisiologis Dalam Masa Kehamilan

Perubahan Anatomi dan Adaptasi Fisiologi Pada Ibu Hamil Trimester I, II, dan III

  1. Sistem Reproduksi

a. Vulva dan Vagina

    1. Trimester I

Pengaruh hormon estrogen, vulva dan vagina mengalami peningkatan pembuluh darah sehingga nampak semakin merah dan kebiru – biruan. Hormon kehamilan mempersiapkan vagina supaya distensi selama persalinan dengan memproduksi mukosa vagina yang tebal, jaringan sel – sel vagina yang kaya glikogen terjadi akibat stimulasi estrogen. Sel – sel yang tinggal membentuk rabas vagina yang kental dan berwarna putih yang disebut leukore, selama hamil PH sekresi vagina menjadi lebih asam. Keasaman berubah dari 4 menjadi 6,5. Peningkatan PH membuat wanita hamil lebih rentan terhadap infeksi vagina, terutama jamur. Leukore adalah rabas mukoit berwarna keabuan dan berbau tidak sedap.

    1. Trimester II

Karena hormon estrogen dan progesterone terus meningkat dan terjadi hipervaskularisasi mengakibatkan pembuluh – pembuluh darah alat genitalia membesar. Hal ini dapat dimgerti karena oksigenasi dan nutrisi pada alat genitalia tersebut meningkat. Peningkatan vaskularisasi vagina dan visiera panggul lain menyebabkan sensivitas yang mencolok. Peningkatan sensivitas bisa meningkatkan keinginan hasrat seksual, terutama pada trimester kedua kehamilan.

Peningkatan kongesti ditambah relaksasi dinding pembuluh darah dan uterus yang berat dapat mengakibatkan timbulnya edema dan varises vulva. Edema dan varises biasanya membaik selama periode pasca persalinan.

    1. Trimester III

Dinding vagina mengalami banyak perubahan yang merupakan persiapan untuk mengalami peregangan pada waktu persalinan dengan meningkatnya ketebalan mukosa, mengendornya jaringan ikat, dan hipertropi sel otot polos. Perubahan ini mengakibatkan bertambah panjangnya dinding vagina.

b. Serviks uteri

    1. Trimester I

Pada trimester pertama kehamilan, kolagen menjadi kurang kuat terbungkus. Hal ini terjadi akibat penurunan konsentrasi kolagen secara keseluruhan. Dengan sel – sel otot polos dan jaringan elastis, serabut kolagen bersatu dengan arah pararel terhadap sesamanya sehingga serviks menjadi lunak pada dinding kondisi tidak hamil, tetapi tetap mampu mempertahankan kehamilan. Pada waktu kehamilan mendekati aterm, terjadi penurunan lebih lanjut dari konsentrasi kolagen. Konsentrasinya menurun secara nyata dari keadaan yang relatif dilusi dalam keadaan menyebar (dispersi) dan ter-remodel menjadi serat. Dispersi meningkat oleh peningkatan rasio dekorin terhadap kolagen.

Karena serabut terdispersi, konsentrasi air meningkat seperti juga halnya asam hialuronat dan glikosaminoglikan. Asam hialuronat disekresikan oleh fibroblas dan memiliki afinitas yang tinggi terhadap molekul air. Penurunan konsentrasi kolagen lebih lanjut ini secara klinis terbukti dengan melunaknya serviks.

    1. Trimester II

Konsistensi serviks menjadi lunak dan kelenjar – kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak.

    1. Trimester III

Pada waktu kehamilan mendekati aterm, terjadi penurunan lebih lanjut dari konsentrasi kolagen. Konsentrasinya menurun secara nyata dari kondisi yang relatif dilusi dalam kondisi menyebar (dispersi). Proses perbaikan serviks terjadi setelah persalinan sehingga siklus kehamilan yang berikutnya akan berulang.

c. Uterus

    • Trimester I

Pada minggu pertama kehamilan uterus masih seperti bentuk aslinya menyerupai buah pir. Seiring dengan perkembangan kehamilan, daerah fundus dan korpus akan membulat dan akan menjadi bentuk sferis pada usia kehamilan 12 minggu. Panjang uterus akan bertambah lebih cepat dibandingkan lebarnya sehingga akan membentuk oval. Istmus uteri pada minggu pertama membentuk hipertrofi seperti korpus uteri yang mengakibatkan istmus menjadi lebih panjang dan lunak yang dikenal dengan tanda hegar.

    • Trimester II

Pada kehamilan cukup bulan, ukuran uterus ialah 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 cc. Hal ini memungkinkan bagi adekuatnya akomodasi pertumbuhan janin. Pada saat rahim membesar akibat hipertrofi dan hiperplasi otot polos rahim, serabut –¬† serabut kolagennya menjadi higroskopik dan endometrium menjadi desidua.

    • Trimester III

Pada akhir kehamilan uterus bakal terus membesar dalam rongga pelvis dan seiring perkembangannya uterus menyentuh dinding abdomen, mendorong usus ke samping dan ke atas, terus tumbuh sampai menyentuh hati. Pada saat pertumbuhan uterus akan berotasi kearah kanan, dekstrorotasi ini disebabkan oleh adanya rectosigmoid di daerah kiri pelvis.

4. Ovarium

    • Trimester I

Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatum, korpus luteum graviditatum berdiameter sekita 3 cm, kemudian korpus luteum mengecil setelah plasenta terbentuk. Korpus luteum ini mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron. Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan kematangan volikel baru akan ditunda, hanya satu korpus luteum yang bisa ditemukan di ovarium. Volikel ini akan berfungsi maksimal selama 6 – 7 minggu awal kehamilan dan setelah itu akan berperan sebagai penghasil progesteron dalam jumlah yang relatif minimal dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung korpus luteum graviditatum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuk plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu.

    • Trimester II

Pada usia kehamilan 16 minggu, plasenta mulai terbentuk dan menggantikan fungsi korpus luteum graviditatum.

    • Trimester III

Pada trimester ke III korpus luteum sudah tidak berfungsi lagi karena telah digantikan oleh plasenta yang telah terbentuk.

  1. Sistem Payudara
    1. Trimester I

Payudara akan membesar dan tegang akibat hormon somatomamotropin, estrogen dan progesteron, akan tetapi belum mengeluarkan ASI. Estrogen menimbulkan hipertropik sistem saluran, sedangkan progesteron menambah sel Рsel asinus pada payudara. Somatomamotropin  mempengaruhi pertumbuhan sel Рsel asinus dan menimbulkan perubahan dalam sel Рsel sehingga terjadi pembuatan kasein. Dengan demikian payudara dipersiapkan untuk laktasi. Disamping itu perubahan progesteron dan somatomamotropin terbentuk lemak disekitar alveolua-alveolus, sehingga peyudara menjadi besar. Papilla mammae akan membesar, lebih tegang dan tembah lebih hitam., seperti seluruh areola mammae disebut Hiperpigmentasi. Lemak yang muncul di areola primer disebut lemak tuberkel montgomery. Grandula montgomery tampak lebih jelas menonjol di permukaan areola mammae.

Rasa penuh peningkatan sensifitas, rasa geli dan rasa berat di payudara mulai timbul sejak minggu ke 6 gestasi. Perubahan payudara ini adalah tanda mungkin hamil. Sensifitas payudara bervariasi dari rasa geli ringan sampai nyeri tajam. Peningkatan suplai darah menyebabkan pembuluh darah di bawah kulit berdilatasi. Pembuluh darah yang sebelumnya tidak terlihat menjadi lebih terlihat seringkali tampak sebagai jalinan biru di bawah permukaan kulit.

2. Trimester II

Selama trimester kedua, pertumbuhan kelenjar mammae membuat ukuran payudara meningkat secara progresif. Kadar hormon luteal dan plasenta pada masa hamil meningkat proliferasi dustus lactiferus dan jaringan lobulus – alveolar sehingga pada palpasi payudara teraba penyebaran nodul kasar peningkatan jaringan glandular menggantikan jaringan ikat, akibatnya jaringan menjadi lebih lunak dan lebih jarang.

3. Trimester III

Pada trimester III pertumbuhan kelenjar mammae membuat ukuran payudara semakin meningkat. Pada kehamilan 32 minggu payudara mengeluarkan cairan berwarna sedikit putih seperti air susu yang sangat encer. Dari kehamilan 32 minggu sampai bayi lahir, cairan yang keluar menjadi lebih kental, berwarna kekuningan dan banyak mengandung lemak. Cairan ini disebut Colostrum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *