Persiapan Sibling

Persiapan Sibling (2)
Persiapan Sibling

Persiapan Sibling

Sibling adalah rasa cemburu seorang anak atas kelahiran adik baru. Dalam arti lain, sibling adalah rasa persaingan di antara saudara kandung akibat kelahiran anak berikutnya. Biasanya terjadi pada anak usia 3 – 10 tahun. Sibling ini biasanya ditunjukkan dengan penolakan dengan kelahiran adiknya, menangis, menarik diri dari lingkungannya, menjauh dari orang tua, atau bahkan melakukan kekerasan pada adiknya (memukul, menindih, mencubit, dan lain – lain). Kehadiran seorang adik yang baru dapat merupakan krisis utama bagi seorang anak. Pada saat itu merasa takut kasih sayang kedua orang tuanya terbagi pada adiknya sehingga timbullah perasaan benci dan tidak menerima kelahiran adik baru, di sinilah peran orang tua agar rasa sibling ini tidak timbul pada anak ketika ketika lahirnya adik baru. Pada umumnya anak cemburu karena kehilangan perhatian orang tua, kecemburuan pada anak – anak  merupakan kecemburuan terkuat  selama  masa  muda  mereka. Kompetisi pada anak terjadi untuk memperebutkan  perhatian  orang tua dan sumber yang terbatas dalam bentuk material. Jika saudara kandung tidak dipersiapkan dari awal menghadapi anggota baru, maka dikhawatirkan akan terjadi sibling rivalry.

Apa itu Sibling Rivalry ?

Sibling rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.

Sibling Rivalry merupakan kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara laki – laki dan saudara perempuan. Hal ini umumnya terjadi pada semua orang tua yang memiliki dua anak atau lebih.

Sibling Rivalry atau perselisihan yang terjadi pada anak – anak tersebut adalah hal yang biasa bagi anak antara usia 5 – 11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah sangat mudah terjadi sibling rivalry. Menurut ahli psikologi hubungan antar anak seusia seperti itu bersifat ambivalent dengan love hate relationship.

Kompetisi yang merupakan bentuk sibling rivalry ini dapat memunculkan reaksi emosi yang ekstrim pada pasangan kakak adik. Keadaan sibling rivalry ini memang cukup wajar terjadi, terutama pada keluarga yang memiliki anak lebih dari satu. Bisa saja menghinggapi sang kakak yang cemburu pada adik, ataupun sebaliknya. Meski wajar, lebih baik orangtua tetap waspada, apalagi jika intensitas perseteruan semakin sering dilakukan. Ketika orangtua tidak segera mengatasi masalah tersebut, akan berpengaruh pada perkembangan psikologis anak. Anak bisa menjadi gelisah, pemarah, dan sulit konsentrasi. Kemudian, mulai muncul perilaku agresi pada anak hingga terjadilah penurunan perilaku mental. Meskipun fakta menunjukkan bahwa konflik antarsaudara sebagai bagian dari perkembangan, sibling rivalry harus tetap diselesaikan. Takutnya, konflik akan justru semakin besar dan berdampak pada setiap orang yang berada dalam lingkungan mereka. Apabila perselisihan atau persaingan sudah melibatkan perilaku agresif, seperti berteriak terus menerus, melempar barang, menyakiti secara fisik, atau menghina secara berlebihan, perlu dilakukan penanganan oleh ahlinya.

Beberapa faktor yang mempengaruhi respon seorang anak adalah

    • Umur,
    • Sikap orang tua,
    • Peran ayah,
    • Lama waktu berpisah dengan ibu,
    • Peraturan kunjungan dirumah sakit
    • Bagaimana anak itu dipersiapkan untuk suatu perubahan.

Segi positif Sibling Rivalry

Meskipun Sibling Rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi positifnya, antara lain:

    1. Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting.
    2. Cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi.
    3. Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif.

Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi fasilitator.

Persiapan untuk mengatasi sibling yang harus ibu lakukan antara lain :

    1. Jelaskan pada anak tentang posisinya (meskipun ada adiknya, ia tetap disayangi oleh ayah dan ibu).
    2. Memberi pemahaman bahwa tidak akan ada seorang ibu membedakan kasih sayang pada setiap anak anak nya
    3. Libatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adiknya
    4. Ajak anak untuk melihat benda – benda atau peralatan yang berhubungan dengan kelahiran bayi
    5. Ajak anak untuk berkomunikasi dengan bayi sejak masih dalam kandungan
    6. Memberi tahu bahwa mempunyai adek baru itu sangat menyenangkan.
    7. Memberi penjelasan bahwa jika punya adek baru maka bisa bermain bersama
    8. Lebih sering luangkan waktu bersama anak, sehingga dia tidak merasa  di lupakan.

Adaptasi kakak terhadap sesuai dengan tahap perkembangan

Respon kanak-kanak atas kelahiran seorang bayi laki – laki atau perempuan bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan. Biasanya anak-anak kurang sadar akan adanya kehadiran anggota baru, sehingga menimbulkan persaingan dan perasaan takut kehilangan kasih sayang orang tua. Tingkah laku negatif dapat muncul dan merupakan petunjuk derajat stres pada anak-anak ini.

Tingkah laku ini antara lain berupa:

    1. Masalah tidur.
    2. Peningkatan upaya menarik perhatian orang tua maupun anggota keluarga lain.
    3. Kembali ke pola tingkah laku kekanak-kanakan seperti ngompol dan menghisap jempol.

Batita (Bawah Tiga Tahun)

Pada tahapan perkembangan ini, yang termasuk batita (bawah tiga tahun) ini adalah usia 1-2 tahun.
Cara beradaptasi pada tahap perkembangan ini antara lain:

    1. Merubah pola tidur bersama dengan anak-anak pada beberapa minggu sebelum kelahiran.
    2. Mempersiapkan keluarga dan kawan-kawan anak batitanya dengan menanyakan perasaannya terhadap kehadiran anggota baru.
    3. Mengajarkan pada orang tua untuk menerima perasaan yang ditunjukkan oleh anaknya.
    4. Memperkuat kasih sayang terhadap anaknnya.

Anak yang Lebih Tua

Tahap perkembangan pada anak yang lebih tua, dikategorikan pada umur 3-12 tahun. Pada anak seusia ini jauh lebih sadar akan perubahan – perubahan tubuh ibunya dan mungkin menyadari akan kelahiran bayi. Anak akan memberikan perhatian terhadap perkembangan adiknya. Terdapat pula, kelas-kelas yang mempersiapkan mereka sebagai kakak sehingga dapat mengasuh adiknya.

Remaja

Respon para remaja juga bergantung kepada tingkat perkembangan mereka. Ada remaja yang merasa senang dengan kehadiran angggota baru, tetapi ada juga yang larut dalam perkembangan mereka sendiri. Adaptasi yang ditunjukkan para remaja yang menghadapi kehadiran anggota baru dalam keluarganya, misalnya:

    1. Berkurangnya ikatan kepada orang tua.
    2. Remaja menghadapi perkembangan seks mereka sendiri.
    3. Ketidakpedulian terhadap kehamilan kecuali bila mengganggu kegiatan mereka sendiri.
    4. Keterlibatan dan ingin membantu dengan persiapan untuk bayi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *