Penapisan persalinan

Penapisan persalinan (2)
Penapisan persalinan

Penapisan persalinan

Penapisan Persalinan Pondok Bersalin ialah suatu lokasi yang didirikan oleh masyarakat atas dasar musyawarah, sebagai kelengkapan dari pembangunan Kesehatan masyarakat desa, guna mamberikan pelayanan KIA dan KB. Pertolongan persalinan yang ditangani di Pondok Bersalin ialah persalinan normal.

Penapisan persalinan adalah indikator yang digunakan untuk deteksi dini komplikasi dan penyulit pada ibu saat persalinan. Terdiri dari 18 point, terdapat kolom “ya dan tidak”, segera rujuk jika ibu memiliki salah satu point atau gejala penyulit dalam penapisan tersebut.

  1. Pernah di operasi seksio sesaria (ada riwayat bedah sesar),

Jika ibu pernah melahirkan secara bedah sesar secara otomatis ibu tidak bisa melahirkan secara normal atau spontal karena menyebabkan rupture pada uterus

  1. Perdarahan pervaginam ( jalan lahir) selain lendir bercampur darah,

Jika pernah mengalami perdarahan (> 500 cc) maka ibu harus melahirkan di pelayanan kesehatan yang lebih memadai dengan pengawasan dokter

  1. Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu),

Persalinan kurang bulan bisa menyebabkan bayi lahir prematur dan harus segera mendapat perawatan khusus

  1. Ketuban pecah dengan mekonium yang kental (cairan berwarna keruh),

Ketuban dengan bercampur mekonium akan menyumbat saluran napasa bayi dan merusak paru-paru

  1. Ketuban pecah sudah lama (lebih dari 24 jam),

Ketuban pecah dan tidak diikuti tanda – tanda persalinan, harus segera dirujuk karena harus ada tindakan selanjutnya. Bukan tidak mungkin ketuban kering dan bayi harus segera dilahirkan

  1. Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan (kurang dari 37 minggu),

Biasa disebut dengan ketuban pecah dini (KPD).. Bayi harus segera dilahirkan karena bayi tidak lagi memiliki perlindungan terhadap infeksi. Ketuban pecah dini biasanya menyebabkan bayi lahir prematur

  1. Ikterus,

Ikterus neonatorum adalah perubahan warna menjadi kuning yang terjadi pada neonatus atau bayi yang baru lahir. Bayi yang ikterus harus segera dirujuk karena harus mendapat perawatan khusus.

  1. Anemia berat,

Ibu hamil harus memiliki HB lebih dari 11 g%. Jika memiliki riwayat anemia ibu hamil rentan mengalami perdarahan.

  1. Tanda atau gejala infeksi

Infeksi sebenarnay bisa dicegah, tetapi jika sudah terlanjur mengalami infeksi sebaiknya dirujuk agak mendapat penanganan segera karena infeksi bisa menyebar ke janin.

  1. Preeklampsia atau hipertensi dalam kehamilan (tekanan darah lebih 160/110),

Pre eklamsia disebut juga keracunan kehamilan. Ada beberapa tanda seperti tekanan darah tinggi, kaki bengkak, kadar urin protein positif, dan pandangan kabur. Ibu yang mengalami pre eklamsia jika dibiarkan akan kejang dan meninggal

  1. Tinggi fundus  40 cm atau lebih ( perut Ibu hamil lebih besar dari pada orang hamil biasanya),

TFU (Tinggi Fundus Uteri) yang tinggi dari wanita hamil pada umumnya dicurigai mengalami bayi besar atau kelebihan cairan ketuban (polihidramnion)

  1. Gawat janin ( ada tanda gerakan janin berkurang dari 10 gerakan dalam 1 hari),

Gawat janin (fetal distres) adalah salah satu ditandai dengan janin yang tidak aktif bergerak seperti biasa, biasanya disebabkan karena kurangnya kadar oksigen yang sampai ke janin, bisa juga disebabkan karena air ketuban yang sedikit.

  1. Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin masih 5/5,

Normalnya untuk persalinan primipara dalam fase aktif, kepala janin sudah memasuki dasar panggul. Jika ditemukan kasus seperti ini dicurigai Cephalopelvic Disproportion), yaitu ketidak sesuaian kepala janin dan panggul.

  1. Presentasi bukan kepala (letak bayi sungsang atau lintang),

Normalnya bayi bisa dilahirkan di bidan jika presentasi terbawah janin adalah kepala. Jika presentasi bukan kepala mungkin bisa dilahirkan secara normal tetapi harus di rumah sakit dengan bantuan dokter spesialis.

  1. Presentasi ganda,

Presentasi ganda ialah keadaan di mana di samping kepala janin di dalam rongga panggul dijumpai tangan, lengan atau kaki, atau keadaan di mana di samping bokong janin dijumpai tangan.

  1. Kehamilan ganda (bayinya kembar)

Kehamilan ganda beresiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Jika berat badan lahir rendah harus dirawat dalam inkubator khusus. Bayi dikatakan memiliki berat rendah jika berat lahir kurang dari 2500 gram.

  1. Tali pusat menumbung,

Adalah kondisi dimana tali pusat keluar terlebih dahulu atau bersamaan dengan keluarnya bagian terbawah janin . Kondisi ini bisa mengancam nyawa bayi, karena tali pusat yang membawa oksigen pada bayi tersebut akan terjepit diantara badan bayi dan jalan lahir.

  1. Syok

Jika ibu mengalami perdarahan saat melahirkan akan berakibat syok, dan ini merupakan penyebab utama kematian ibu pasca persalinan.

Sebenarnya terdapat resiko kematian pada ibu hamil ada 3 “Terlambat”

  1. Terlambat  Mengambil Keputusan.

Kebanyakan dari Ibu hamil (bumil) keputusan untuk tempat melahirkan dipegang oleh orang tua, dan mertua. Sebenarnya yang harus mengambil keputusan itu adalah suaminya sendiri karena untuk menyelamatkan 2 nyawa dari orang yang dicintainya. Dimana tanggung jawab suami selama ini pada istri dan anaknya ??? Mungkin selama ini banyak masyarakat yang salah persepsi bahwa segala sesuatunya itu jika ditangani oleh ahlinya akan baik-baik saja.

  1. Terlambat di Rujuk

Jika di dapati ciri di atas hendaknya segera rujuk ibu, jangan memaksakan untuk melahirkan dirumah dengan dukun. Memang benar kematian itu sudah di takdirkan, tetapi tidak salahnya kita berusaha untuk mengurangi resiko kematian pada ibu, karena yang di selamatkan itu bukan bayinya saja tetapi ibunya juga harus di selamatkan juga.

  1. Karena serba terlambat maka terjadilah kematian pada ibu.

Kemudian ada istilah 4 “TERLALU” 

  1. TERLALUmuda untuk hamil (kurang dari 20 tahun)
  2. TERLALUtua untuk hamil (usia lebih dari 35 tahun) karena lebih beresiko
  3. TERLALUbanyak anak
  4. TERLALUdekat jarak kehamilan (kurang dari 2 tahun jarak kehamilan)

Berbagai komplikasi persalinan

Ketika proses persalinan dimulai, otot-otot perut ibu bakal mengecil dan mengakibatkan mulainya kontraksi. Kontraksi berikut yang akan mengakibatkan leher rahim (serviks) menipis dan lantas melebar (dilate).Proses persalinan bisa dilangsungkan lebih dari 12 jam, terlebih guna ibu – ibu yang baru pertama kali melahirkan. Untungnya, banyak sekali ibu dapat melewati proses ini dengan sempurna tanpa kejadian apapun. Namun, tetap saja sejumlah ibu dapat mengalami komplikasi persalinan yang seringkali merupakan permasalahan tak terduga dan tidak dapat diprediksi sebelumnya.Komplikasi persalinan yang dapat terjadi pada ibu, mulai dari ketidak tepatan pemberian penghilang rasa sakit, situasi gawat janin, sampai pendarahan seusai melahirkan.

Berikut uraian satu persatu keenam jenis komplikasi persalinan yang mungkin terjadi.

1. Pemberian obat penghilang rasa sakit yang tidak tepat

Seperti anda tahu, persalinan adalah salah satu proses yang lumayan menyakitkan dan bisa dilangsungkan dalam jangka masa – masa yang lumayan lama. Kondisi ini pasti saja paling melelahkan untuk ibu, baik secara fisik atau psikologis. Ibu sebetulnya dapat mengurangi rasa sakit itu dengan mempersiapkan diri secara mental atau latihann kursus prenatal untuk mempersiapkan diri ketika persalinan nanti. Alternatif lainnya ialah dengan pemberian obat penghilang rasa sakit. Obat ini seringkali diberikan dengan pertimbangan bahwa ibu dapat menjadi lelah sebelum proses persalinan selesai.

Jenis penghilang rasa sakit yang pertama ialah gabungan dari oksigen dan nitrous oxide (gas yang menciptakan orang tertawa) yang dialirkan melewati masker atau mouthpiece untuk meminimalisir rasa sakit yang timbul ketika melahirkan. Pilihan kedua seringkali berupa suntikan penghilang rasa sakit yang seringkali diberikan melewati bokong. Dengan adanya suntikan ini, ibu dapat saja tidak akan menikmati sakit selama menantikan proses pembukaan selesai sekitar 2 – 4 jam. Sayangnya, suntikan ini pun mempunyai efek samping. Ibu dapat saja merasa sangat mengantuk. Jadi bila suntikan ini dibrikan saat bayi telah siap untuk dilahirkan, pernapasan bayi dapat terganggu karenanya. Bagi mengatasinya dokter seringkali akan menyerahkan obat penangkal untuk bayi. Jika ibu masih mengalami rasa sakit yang berlebih, suntikan anestesi epidural oleh tenaga kesehatan juga dapat diberikan. Bila tindakan ini efektif, ibu seringkali akan merasakan kakinya berat, bahkan sering tidak dapat untuk digerakkan. Karena itu pertolongan kateter seringkali juga untuk membantu ibu buang air kecil.

2. Hambatan persalinan (failure progress)

Ini seringkali terjadi pada ibu yang baru pertama kali melahirkan. Kondisi ini terjadi sebab perut ibu belum siap untuk melahirkan, sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk merespon hormon pemicu kontraksi.Tindakan yang akan dokter lakukan ialah pemberian hormon pemicu kontraksi, oksitosin, guna membantu rahim lebih berkontraksi.

3. Chipalopelvic disproportion (CPD)

Jumlah ibu yang hamil di atas 35 tahun sekarang semakin tinggi. Sayangnya, gaya hidup di Asia seringkali membuat ibu rentan terhadap diabetes. Kondisi diabetes yang tak terkontrol pada ibu hamil dapat menyebabkan Chepalopelvic disproportion (CPD). Chepalopelvic disproportion ialah kondisi kepala dan bahu bayi yang terlampau besar untuk melewati panggul ibu dan dapat menyebabkan lambannya proses persalinan. Satu-satunya penyelesaian untuk permasalahan CPD ialah Operasi Caesar.

4. Gawat janin (Fetal distress)

Istilah gawat janin atau fetal distress sebenarnya merujuk pada beragam komplikasi persalinan. Jika ibu mendengar istilah ini dibacakan oleh dokter yang menolong proses persalinan, mintalah penjelasan lebih spesifik apa yang terjadi pada bayi. Dokter seringkali menggunakan istilah ini saat ada kejadian yang sehubungan dengan detak jantung bayi. Proses itu tidak selalu membuat stres ibu tapi juga bayi. Sementara pelvis ibu belum membuka sempurna supaya dokter dapat memberikan tindakan dengan forceps atau vakum; janin yang telah siap dilahirkan dapat saja mengalami hipoksia atau pernapasan lemah sehingga janin berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Dokter umunya akan segera merekomendasikan operasi Caesar bila kejadian ini yang terjadi.

5. Sungsang

Idealnya, kepala bayi berada di posisi bawah setelah berusia 37 minggu; menghadap ke arah mana ia siap dilahirkan. Sungsang dapat terjadi karena sejumlah hal di antaranya sempitnya panggul ibu, air ketuban yang berlebih, bentuk rahim ibu yang lonjong, hidrosephalus, serta adanya adanya kejadian plasenta previa. Dulu dokter dapat saja berusaha untuk memutar posisi bayi dengan teknik memberi tekanan dari luar pada perut ibu (external cephalic version) namun dinilai beresiko, cara ini sekarang dihilangkan. Cara mengatasi komplikasi persalinan sungsang ialah dengan operasi Caesar.

6. Perdarahan setelah melahirkan

Umumnya ibu beranggapan  bahwa proses selesai seiring dengan keluarnya bayi. Namun persalinan baru selesai ketika plasenta lahir seluruhnya dari perut ibu. Normalnya, perut ibu akan berkontraksi dengan sendirinya untuk melahirkan plasenta. Perdarahan dapat saja terjadi jika rahim ibu terlampau lelah untuk berkontraksi setelah melewati proses persalinan yang lama. Jika perdarahan tidak banyak, dokter akan memberikan suntikan uterotonika untuk membantu rahim berkontraksi kembali. Jika perdarahan terus terjadi maka dokter bakan melakukan pengikatan pembuluh darah atau bahkan akan mengangkat rahim (histerektomi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *