Palpitasi Jantung pada ibu hamil

Palpitasi Jantung pada ibu hamil (2)
Palpitasi Jantung pada ibu hamil

Palpitasi jantung adalah suatu kondisi dimana keadaan jantung tidak seperti biasanya, seperti terasa terlalu lambat atau terlalu cepat berdetak (takikardi), atau biasa disebut berdebar-debar. Beberapa orang mengalami palpitasi jantung setelah makan atau minum sesuatu seperti kafein dan alkohol. Mungkin anda sensitif terhadap kafein. Mulas setelah makan makanan pedas atau masakan berbumbu juga dapat menyebabkan palpitasi jantung. Mengkonsumsi obat-obatan tertentu juga dapat memicu palpitasi jantung karena dosis yang terlalu tinggi. Beberapa obat-obatan yang dijual umum, seperti obat flu dan dekongestan yang memiliki efek stimulan, serta obat-obatan untuk asma, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, pil diet, hormon tiroid, dan beberapa antibiotik juga dapat menyebabkan palpitasi. Obat-obatan terlarang seperti amfetamin dan kokain, serta nikotin pada rokok juga dapat memicu palpitasi jantung.

Apa penyebab palpitasi?

Ada banyak penyebab yang bisa membuat seseorang mengalami detak jantung tidak beraturan (palpitasi). Walaupun menyerang organ jantung, tapi tidak semua penyebabnya berkaitan langsung dengan organ ini. Berikut beberapa penyebab palpitasi jantung:

  1. Kondisi organ jantung

Adanya gangguan pada jantung bisa mengakibatkan munculnya palpitasi atau takikardi, seperti:

  • Aritmia
  • Serangan jantung
  • Masalah pada katup jantung
  • Gagal jantung
  • Cacat jantung saat lahir
  • Kardiomiopati hipertrofik (pembesaran dan penebalan dinding otot jantung), maupun jenis kardiomiopati lainnya
  1. Kondisi emosional

Kondisi emosional di dalam diri juga bisa mengakibatkan jantung berdebar tidak teratur, seperti merasa gelisah, tertekan, merasa panik, gugup, merasa cemas, stres, ketakutan akan suatu hal

  1. Perubahan hormon

Selain dua faktor sebelumnya, perubahan hormon pada tubuh juga turut andil sebagai penyebab palpitasi. Perubahan hormon meliputi: periode menstruasi, kehamilan, sebelum atau selama menopause. Terkadang, kondisi jantung berdebar tidak menentu yang terjadi selama kehamilan bisa menjadi salah satu tanda anemia (kurang darah).

  1. Konsumsi obat-obatan

Perhatikan obat apa saja yang sedang rutin dikonsumsi. Sebab beberapa obat-obatan tertentu dapat menimbulkan detak jantung tidak menentu, yakni:

  • Obat antiaritmia
  • Obat antihistamin
  • Obat hormon tiroid
  • Antibiotik
  • Inhaler asma
  • Obat antidepresan
  • Terapi antijamur
  • Beberapa jenis obat batuk dan pilek
  • Dekongestan
  • Beberapa suplemen herbal dan gizi
  • Pil diet
  1. Kondisi tubuh tertentu

Kondisi tubuh bisa mendasari terjadinya debar jantung tidak beraturan;

  • Kelenjar tiroid yang terlalu aktif
  • Anemia
  • Kadar gula darah rendah
  • Kadar kalium rendah
  • Dehidrasi
  • Tubuh demam
  • Kehilangan darah
  • Mengalami syok
  • Rendahnya kadar oksigen atau karbon dioksida dalam darah
  • Kelainan elektrolit
  1. Gaya hidup

Kebiasaan gaya hidup tak kalah berperan sebagai penyebab palpitasi jantung, seperti:

  • Terlalu banyak konsumsi kafein (umumnya ada di dalam teh, kopi, dan minuman berenergi)
  • Terlalu banyak minum alkohol
  • Merokok
  • Melakukan olahraga berat
  • Menggunakan obat-obatan terlarang (misalnya ganja, kokain, heroin, ekstasi, dan amfetamin)
  • Terlalu banyak makan makanan pedas

Selain itu, beberapa orang juga mengaku mengalami jantung berdebar setelah makan makanan berat yang banyak mengandung karbohidrat, gula, atau lemak. Bahkan, terlalu banyak makan makanan yang mengandung monosodium glutamat (MSG), nitrat, atau natrium juga dapat mengakibatkan palpitasi.

Walaupun palpitasi tidak berbahaya, tapi dapat menjadi pertanda sesuatu yang tidak normal, terutama jika disertai dengan:

  • Kesulitan bernafas
  • Keringat berlebih
  • Kebingungan
  • Pusing atau pingsan
  • Nyeri dada
  • Tekanan pada dada, punggung atas, lengan, leher atau rahang

Ada banyak faktor risiko yang memungkinkan seseorang mengalami palpitasi, yaitu:

  • Penyakit jantung koroner
  • Tekanan darah tinggi
  • Konsumsi alkohol berlebih
  • Konsumsi kafein berlebih
  • Mengalami stres
  • Anemia
  • Penyakit jantung bawaan (PJB)
  • Peradangan pada jantung
  • Penyakit paru-paru kronis
  • Faktor keturunan
  • Usia, orang yang berusia lanjut biasanya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami takikardi
  • Mengalami gangguan kecemasan atau kepanikan yang sering terjadi
  • Sedang hamil
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, terutama yang mengandung stimulan seperti obat pilek dan asma
  • Kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme)
  • Pernah melakukan operasi jantung sebelumnya

Tes yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi jantung;

  1. Tes Elektrokardiografi (EKG)

Tes yang dilakukan dengan merekam sinyal aktivitas listrik pada jantung.

  1. Tes Holter Monitor

Tes yang bertujuan untuk memeriksa fungsi jantung, tapi tanpa harus berada di ruang pemeriksaan. Alat yang bertugas untuk merekan aktivitas irama detak jantung akan dipasang pada tubuh pasien, tepatnya di saku atau ikat pinggang. Alat tersebut telah terhubung dengan kabel elektroda yang menempel langsung pada dada untuk mengamati kerja organ jantung.

  1. Tes Ekokardiografi (USG jantung)

Pemeriksaan untuk mengamati kondisi jantung, meliputi struktur dan fungsinya. Cara kerjanya dengan mengeluarkan gelombang suara elektronik, sehingga menghasilkan sebuah gambar untuk menunjukkan kondisi jantung.

  1. Tes darah
  2. Tes urin
  3. Foto rontgen atau x-ray

Palpitasi jantung saat hamil

Penyebab jantung berdebar saat hamil yaitu penambahan volume darah dalam tubuh. Tubuh wanita hamil mengandung hampir 50 persen darah lebih banyak dibandingkan dengan wanita yang tidak sedang hamil. Pada trimester ketiga atau  bulan terakhir kehamilan, sekitar 20 persen darah di tubuh ibu akan disalurkan ke rahim. Kondisi ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras. Ibu harus menambah pasokan darah untuk bayi yang ada dalam kandungan untuk membantunya tumbuh dan berkembang. Volume darah ekstra inilah yang mengakibatkan jantung harus memompa lebih cepat untuk memindahkannya. Detak jantung bisa meningkat 10 hingga 20 denyut ekstra per menitnya.

Selain karena meningkatnya volume darah ibu hamil, berikut adalah penyebab-penyebab lain mengapa jantung berdebar kencang.

  • Stres berlebihan.
  • Mengonsumsi kafein misalnya dari kopi, teh, minuman energi, minuman bersoda, atau cokelat.
  • Obat pilek dan alergi yang mengandung pseudoefedrine
  • Adanya gangguan jantung seperti hipertensi pulmonal atau arteri koroner.
  • Kerusakan jantung dari kehamilan sebelumnya.
  • Masalah kesehatan seperti tiroid.

Dikarenakan palpitasi jantung disebabkan karena kehamilan itu sendiri, maka tidak banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Tetapi ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengendalikannya agar tidak semakin parah, yaitu:

  1. Ketahui penyebabnya

Jika ibu merasa bahwa debaran jantung hanya disaat tertentu setelah mengonsumsi atau melakukan sesuatu, maka ibu pasti tahu apa yang harus yang dilakukan untuk mencegahnya agar tidak lebih parah.

  1. Hindari mengonsumsi kafein

Kafein termasuk senyawa yang kurang baik untuk dikonsumsi oleh ibu dan bayi. Jadi, cara paling aman ialah dengan menghindarinya. Kafein bukan hanya terdapat dalam kopi saja. Teh dan soda juga mengandung senyawa tersebut. Jangan sampai berlebihan dalam mengonsumsinya.

  1. Minum air yang cukup

Dehidrasi merupakan penyebab umum dari palpitasi jantung. Untuk itu, usahakan untuk minum cukup air saat hamil. Jika gejala kehamilan seperti mual sulit untuk minum dalam jumlah banyak, cobalah untuk mengonsumsinya sedikit demi sedikit. Selain itu, Anda juga bisa mengonsumsi buah yang mengandung banyak air seperti melon dan semangka.

  1. Jangan menyiksa diri sendiri

Hindari teknik manuver valsava saat Anda bernapas, yakni teknik bernapas di mana Anda menghembuskan napas dengan kuat tanpa membiarkan udara keluar, seperti anda berusaha untuk buang air besar. Prosedur ini terkadang memang dianjurkan untuk palpitasi. Namun, melakukan hal ini saat hamil membuat anda berisiko mengalami lonjakan tekanan darah, pingsan atau cedera panggul.

Pada intinya, jantung yang berdebar kencang saat hamil tidak berbahaya. Namun, jika hal tersebut disertai dengan gejala lainnya, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan perawatan. Anda perlu lebih peka terhadap sinyal yang diberikan tubuh saat kehamilan agar terhindar dari hal-hal yang bisa membahayakan diri dan bayi Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *