Konsep Dasar Masa Nifas

Konsep Dasar Masa Nifas  (2)
Konsep Dasar Masa Nifas

Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung selama sekitar 6 minggu. Selama masa pemulihan tersebut berlangsung, ibu akan mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun psikologis, namun jika tidak dilakukan pendampingan melalui asuhan kebidanan maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kondisi patologis.

Masa ini merupakan masa yang cukup penting bagi tenaga kesehatan untuk selalu melakukan pemantauan karena pelaksanaaan yang kurang maksimal dapat menyebabkan ibu mengalami berbagai masalah, bahkan dapat berlanjut pada komplikasi masa nifas, seperti sepsis puerpuralis. Jika ditinjau dari penyebab kematian para ibu, infeksi merupakan penyebab kematian terbanyak nomor dua setelah perdarahan sehingga sangat tepat jika para tenaga kesehatan memberikan perhatian yang tinggi pada masa ini. Adanya permasalahan pada ibu akan berdampak juga pada kesejahteraan bayi yang dilahirkan karena bayi tersebut tidak akan mendapatkan perawatan maksimal dari ibunya. Dengan demikian, angka morbiditas dan mortalitas bayi pun akan meningkat.

Tujuan asuhan masa nifas

Asuhan yang diberikan pada ibu nifas bertujuan untuk :

    1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis bagi ibu dan bayi

Dengan diberikannya asuhan, ibu akan mendapatkan fasilitas dan dukungan dalam upayanya untuk menyesuaikan peran barunya sebagai seorang ibu (pada kasus ibu dengan kelahiran anak pertama) dan pendampingan keluarga dalam membuat bentuk dan pola baru dengan kelahiran anak berikutnya. Jika ibu dapat melewati masa ini dengan baik maka kesejahteraan fisik dan psikologis bayi pun akan meningkat.

    1. Pencegahan, diagnosa dini, dan pengobatan komplikasi pada ibu

Dengan asuhan yang diberikan pada ibu nifas, kemungkinan munculnya permasalahan dan komplikasi akan lebih cepat terdeteksi sehingga penanganannya pun dapat lebih maksimal.

    1. Merujuk ibu ke pelayanan yang lebih memadai jika perlu

Meskipun ibu dan keluarga mengetahui terdapat permasalahan kesehatan pada ibu nifas yang memerlukan rujukan, namun tidak semua keputusan yang diambil tepat, misalnya mereka lebih memilih tidak datang ke fasilitas pelayanan kesehatan karena pertimbangan tertentu. Jika bidan senantiasa mendampingi pasien dan keluarga maka keputusan tepat dapat diambil sesuai dengan kondisi pasien sehingga kejadian mortalitas ibu dapat dicegah.

    1. Mendukung dan memperkuat keyakinan ibu, serta memungkinkan ibu untuk mampu melaksanakan perannya dalam situasi keluarga dengan budaya tertentu

Pada saat memberikan asuhan nifas, keterampilan seorang bidan sangat dituntut dalam memberikan pendidikan kesehatan terhadap ibu dan keluarga. Keterampilan yang harus dikuasai oleh para bidan, antara lain berupa materi pendidikan yang sesuai dengan kondisi pasien, teknik penyampaian, media yang digunakan, pendekatan psikologis yang efektif sesuai dengan budaya setempat. Hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan karena banyak pihak yang beranggapan jika bayi telah lahir dengan selamat, serta secara fisik ibu dan bayi tidak ada masalah maka tidak perlu lagi dilakukan pendampingan bagi ibu. Padahal bagi ibu (terutama ibu baru), beradaptasi dengan peran barunya sangatlah berat dan membutuhkan suatu kondisi mental yang maksimal.

    1. Imunisasi ibu terhadap tetanus

Dengan pemberian asuhan yang maksimal, kejadian tetanus dapat dihindari, meskipun untuk saat ini angka kejadian tetanus sudah banyak mengalami penurunan.

    1. Mendorong pelaksanaan metode yang sehat pemberian makan pada anak, serta peningkatan pengembangan hubungan yang baik antara ibu dan anak

Saat memberikan asuhan, materi dan pemantauan yang diberikan tidak hanya sebatas pada lingkup permasalahan ibu, tetapi bersifat menyeluruh terhadap ibu dan anak. Kesempatan untuk berkonsultasi tentang kesehatan termasuk kesehatan anak dan keluarga akan sangat terbuka. Bidan akan mengkaji pengetahuan ibu dan keluarga mengenai upaya mereka dalam rangka meningkatkan kesehatan keluarga. Upaya pengembangan pola hubungan psikologis yang baik antara ibu, anak, dan keluarga juga dapat ditingkatkan melalui pelaksanaan asuhan ini.

Peran dan Tanggung Jawab tenaga kesehatan dalam masa nifas

  • Teman terdekat sekaligus pendamping ibu dalam menghadapi saat kritis masa nifas

Pada awal masa nifas, ibu mungkin akan mengalami masa – masa sulit. Saat itulah ibu sangat membutuhkan teman dekat yang dapat ia andalkan dalam mengatasi kesulitas yang ia alami. Bagaimana pola hubungan yang terbentuk antara ibu dan bidan akan sangat ditentukan oleh keterampilan bidan dalam menempatkan diri sebagai teman dan pendamping bagi ibu. Jika pada tahap ini hubungan yang terbentuk sudah baik makan tujuan dari asuhan akan lebih mudah tercapai.

  • Pendidik dalam usaha pemberian pendidikan kesehatan terhadap ibu dan keluarga

Masa nifas merupakan masa yang paling efektif bagi bidan untuk menjalankan perannya sebagai pendidik. Dalam hal ini, tidak hanya ibu yang akan mendapat materi pendidikan kesehatan, melainkan seluruh anggota keluarga . Melibatkan keluarga dalam setiap kegiatan perawatan ibu dan bayi merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk memberikan pendidikan kesehatan yang tepat. Selain itu, pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kesehatan selalu melibatkan keluarga sehingga bidan selalu mengikutsertakan keluarga dalam pelaksanaan asuhan.

  • Pelaksana asuhan dalam hal tindakan perawatan, pemantauan, penanganan masalah, rujukan, dan deteksi dini komplikasi masa nifas

Dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya, bidan sangat dituntut kemampuannya dalam menerapkan teori yang telah didapatnya kepada pasiem. Perkembangan ilmu dan pengetahuan yang paling up to date harus selalu diikuti agar bidan dapat memberikan pelayanan yang berkualitas kepada pasien. Penguasaan bidan dalam hal pengambilan keputusan yang tepat mengenai kondisi pasien sangatlah penting, terutama menyangkut kasus rujukan dan deteksi dini pasien agar komplikasi dapat dicegah.

Tahapan masa nifas

Masa nifas dibagi menjadi tiga tahap, yaitu puerperium dini, puerperium intermedial, dan remote puerperium. Berikut penjelasannya :

    • Puerperium Dini

Puerperium Dini merupakan masa pemulihan yang dalam hal ini ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan – jalan. Dalam agama islam dianggap bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

    • Puerperium intermedial

Puerperium intermedial merupakan masa pemulihan menyeluruh alat – alat genitalia yang lamanya sekitar 6 sampai 8 minggu

    • Remote puerperium

Remote puerperium merupakan masa yang diperlukan untuk pulih dan sehat secara sempurna, terutama jika selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna dapat berlangsung selama berminggu – minggu, bulanan, bahkan tahunan.

Kebijakan program nasional masa nifas

    • Kunjungan pertama. Dilakukan 6 sampai 8 jam persalinan.

Tujuan :

    1. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
    2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk jika perdarahan berlanjut
    3. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
    4. Pemberian ASI awal
    5. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi
    6. Menjaga bayi tetap hangat, dan mencegah hipotermi
    7. Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi yang baru lahir selama 2 jam pertama setelah persalinan atau sampai ibu dan bayinya dalam kondisi stabil
    • Kunjungan kedua. Dilakukakn 6 hari setelah persalinan.

Tujuan :

    1. Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah umbillicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
    2. Menilai adanya tanda – tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal
    3. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat
    4. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda – tanda penyulit
    5. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga beyi tetap hangat, dan merawat bayi sehari – hari
    • Kunjungan ketiga. Dilakukan 2 minggu setelah persalinan

Tujuan asuhan yang dilakukan sama seperti kunjungan kedua.

    • Kunjungan keempat. Dilakukan 6 minggu setelah persalinan.

Tujuan :

    1. Menanyakan pada ibu tentang kesulitan – kesulitan yang ia atau bayi nya alami
    2. Memberikan konseling KB secara dini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *