Involusi dan Subinvolusi Uterus

Involusi dan Subinvolusi Uterus (1)
Involusi dan Subinvolusi Uterus

Involusi dan Subinvolusi Uterus

Involusi uterus adalah suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot – otot polos uterus. Intensitas kontraksi uterus meningkat sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterine yang sangat besar. Hemostatis pascapartum dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium. Hormon yang dilepaskan kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh darah dan membantu hemostatis. Selama 1 samapai 2 jam pertama pasca partum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, ibu dianjurkan menyusui bayinya. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) atau permulaan menyusui dini adalah bayi mulai menyusui sendiri segera setelah lahir. Inisiasi menyusui ini dan pengisapan puting payudara oleh bayi pada awal masa nifas memperkuat stimulasi pengeluaran oksitosin. Ketika bayi menghisap puting, refleks saraf merangsang lobus posterior kelenjar pituitary untuk mensekresi hormon oksitosin. Oksitosin mempercepat proses involusi dan meminimalkan kehilangan darah.

Proses involusi uterus

  1. Ischemi pada miometrium disebut juga lokal ischemia
    • Yaitu kekurangan darah pada uterus. Kekurangan darah ini bukan hanya karena kontraksi dan retraksi yang cukup lama tetapi disebabkan oleh pengurangan aliran darah yang mengalir ke uterus di dalam masa hamil karena uterus harus membesar menyesuaikan diri dengan pertumbuhan janin.
    • Untuk memenuhi kebutuhannya, darah banyak dialirkan ke uterus dapat menimbulkan hipertropi dan hiperplasi setelah bayi dilahirkan tidak diperlukan lagi, maka aliran darah berkurang kembali seperti biasa. Dan aliran darah dialirkan ke payudara sehingga peredaran darah ke payudara menjadi lebih baik.
    • Uterus akan mengalami kekurangan darah sehingga jaringan otot – otot uterus mengalami otropi kembali kepada ukuran semula
  1. Autolysis

Adanya penghancuran jaringan otot – otot uterus yang tumbuh karena adanya hiperplasi, dan jaringan otot yang membesar menjadi lebih panjang 10 kali dan menjadi 5 kali lebih tebal dari sewaktu masa hamil, akan susut kembali mencapai keadaan semula. Faktor penyebab terjadinya autolisis antara hormon atau enzim sampai sekarang masih belum diketahui tetapi telah diketahui adanya penghancuran protoplasma dan jaringan yang diserap oleh darah kemudian dikeluarkan oleh ginjal. Inilah sebabnya beberapa hari setelah melahirkan ibu mengalami sering buang air kecil.

Faktor – faktor yang mempengaruhi involusi uterus

Proses involusi dapat terjadi secara cepat atau lambat, faktor yang mempengaruhi involusi uterus antara lain :

    1. Mobilisasi dini

Aktivitas otot – otot kontraksi dan retraksi dari otot – otot setelah bayi lahir, yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi uterus yang tidak diperlukan, dengan adanya kontraksi dan retraksi yang terus menerus ini mengakibatkan terganggunya peredaran darah dalam uterus yang menyebabkan jaringan otot kekurangan zat – zat yang diperlukan, sehingga ukuran jaringan otot – otot tersebut menjadi kecil.

    1. Status gizi

Status gizi adalah tingkat kecukupan gizi seseorang yang sesuai dengan jenis kelamin dan usia. Status gizi yang rendah pada ibu post partum maka pertahanan pada dasar ligamentum latum yang terdiri dari kumpulan infiltrasi sel – sel bulat yang disamping memunculkan pertahanan terhadap penyembuhan kuman, juga bermanfaat untuk menghilangkan jaringan nefrotik, pada ibu post partum dengan status gizi baik akan mampu menghindari serangan kuman sehingga tidak terjadi infeksi dalam masa nifas dan mempercepat proses involusi uterus.

    1. Menyusui

Pada proses menyusui ada refleks let down dari isapan bayi merangsang hipofise posterior mengeluarkan hormon oxytosin yang oleh darah hormon ini diangkat menuju uterus dan membantu uterus berkontraksi sehingga proses involusi uterus terjadi.

    1. Usia

Pada ibu yang berusia lebih tua banyak dipengaruhi oleh proses penuaan, dimana proses penuaan terjadi peningkatan jumlah lemak. Penurunan elastisitas otot dan penurunan penyerapan lemak, protein, serta karbohidrat. Bila proses ini dihubungkan dengan penurunan protein pada proes penuaan, maka hal ini akan menghambat involusi uterus.

    1. Paritas

Paritas mempengaruhi involusi uterus, otot – otot yang telalu sering teregang memerlukan waktu yang lama.

Pengukuran involusi uterus

Pengukuran involusi uterus dapat dilaksanakan dengan mengukur tinggi fundus uteri, kontraksi uterus dan pengeluaran lokhea, Involusi uterus melibatkan reorganisasi dan penanggalan desidua dan pengelupasan kulit pada lapisan plasenta sebagai tanda penurunan ukuran dan berat, perubahan lokasi uterus, warna dan jumlah lokhea.

Sedangkan ubinvolusi uterus adalah Suatu kondisi medis dimana setelah melahirkan rahim atau uterus tidak kembali ke ukuran normal, sehingga proses pengecilan uterus terhambat.

Faktor penyebab predisposisi

    1. Infeksi
    2. Multiparitas
    3. Peregangan berlebihan pada rahim seperti pada kehamilan kembar dan hidramnion
    4. Masalah kesehatan ibu
    5. Operasi sesar
    6. Prolaps uteri
    7. Retroversi (kelainan bentuk) setelah uterus kembali menjadi organ panggul
    8. Fibroid uterus

Patofisiologi subinvolusi uterus

Kekurangan darah pada uterus. Kekurangan darah bukan hanya karena kontraksi dan retraksi  yang cukup lama, tetapi disebabkan oleh pengurangan aliran darah yang pergi ke uterus di dalam perut ibu hamil, karena uterus harus membesar menyesuaikan diri dengan pertumbuhan janin. Untuk memenuhi kebutuhannya, darah banyak dialirkan ke uterus dapat mengadakan hipertropi dan hiperplasi setelah bayi dilahirkan tidak diperlukan lagi, maka pengaliran darah berkurang , kembali seperti biasa. Dengan adanya hal-hal itu uterus akan mengalami kekurangan darah sehingga jaringan otot –otot uterus mengalami atrofi kembali ke ukuran semula. Subinvolusi uterus megakibatkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah yang lebar tidak menutup sempurna, sehingga perdarahan terjadi terus menerus, menyebabkan permasalahan lainnya baik itu infeksi maupun inflamasi pada bagian rahim terkhususnya endromatrium. Sehingga proses involusi yang mestinya terjadi setelah nifas terganggu karena akibat dari permasalahan di atas.

Manifestasi klinis dari Subinvolusio Uterus

Biasanya tanda dan gejala subinvolusi tidak tampak, sampai kira – kira 4 – 6 minggu pasca nifas.

    1. Fundus uteri letaknya tetap tinggi di dalam abdomen atau pelvis dari yang diperkirakan atau penurunan fundus uteri lambat dan tonus uterus lembek.
    2. Keluaran kochia seringkali gagal berubah dari bentuk rubra ke bentuk serosa, lalu kebentuk kochia alba.
    3. Lochia bisa tetap dalam bentuk rubra dalam waktu beberapa hari postpartum atau lebih dari 2 minggu pasca nifas
    4. Lochia bisa lebih banyak daripada yang diperkirakan
    5. Leukore dan lochia berbau menyengat, bisa terjadi jika ada infeksi
    6. Pucat,pusing, dan tekanan darah rendah
    7. Bisa terjadi perdarahan postpartum dalam jumlah yang banyak (>500 ml)
    8. Nadi lemah, gelisah, letih, ektrimitas dingin

Penatalaksanaan Subinvolusi Uterus

  • Pemberian antibiotik
  • Pemberian uterotonika
    1. Oksitosin
    2. Metilergonovin maleat
  • Pemberian tansfusi
  • Dilakukan kerokan bila disebabkan karena tertinggalnya sisa-sisa plasenta

Komplikasi Subinvolusi Uterus

Subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah yang lebar tidak menutup sempurna, sehingga perdarahan terjadi terus menerus. Perdarahan postpartum  (Haemoragic Post Partum (HPP))  merupakan perdarahan vagina yang lebih dari 24 jam setelah melahirkan. Penyebab utama adalah subinvolusi uterus. Yakni kondisi dimana uterus tidak dapat berkontraksi dan kembali kebentuk awal. Ketika miometrium kehilangan kemampuan untuk berkontraksi, pembuluh rahim mungkin berdarah secara luas dan menyajikan situasi yang mengancam jiwa mengharuskan histerektomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *