Ikterus Neonatorum Fisiologis

Ikterus Neonatorum Fisiologis (1)
Ikterus Neonatorum Fisiologis

Ikterus Neonatorum Fisiologis

Ikterus atau warna kuning sering dijumpai pada bayi baru lahir dalam batas normal pada hari kedua sampai hari ketiga dan akan menghilang pada hari kesepuluh. Oleh karena itu, menjelang kepulangan bayi, ikterus harus mendapat perhatian karena mungkin sifatnya patologis. Ikterus yang dialami sebagian besar bayi baru lahir ini merupakan ikterus fisiologis. Billirubin ini merupakan hasil metabolisme hemoglobin yang terkandung di dalam sel darah merah, sel darah merah ini memiliki usia tertentu, 120 hari pada orang dewasa dan sekitar 70 – 90 hari pada neonatus. Usia sel darah merah yang pendek ini terjadi karena kondisi sel darah merah nenonatus yang masih sangat muda (immature), selnya berinti besar sehingga sangat mudah mengalami hemolisis (pemecahan). Apabila mencapai masanya, sel darah merah ini akan mengalami destruksi atau pemecahan.

Sebagai gambaran dapat dikatakan bahwa kadar billirubin indirect bayi cukup bulan sekitar 15 mg% sedangkan bayi belum cukup bulan 10 mg%. Di atas angka tersebut dianggap hiperbillirubinemia, yang dapat menimbulkan kern-icterus.

Mengapa ikterus penting?

Ikterus dapat merupakan tanda dari penyakit yang sebenarnya sehingga menjadi clue tersendiri dalam mendiagnosis etiologi. Selain itu, ikterus yang tidak tangani secara cepat dan tepat dapat menimbulkan kern-icterus, yaitu ensefalopati akibat kadar bilirubin indirect yang berlebih pada ganglia basal dan nukleus batang otak. Hal tersebut ditandai dengan tampak iritabilitas pada bayi, letargi, malas minum, demam, kejang, koma, bahkan kematian.

Secara umum, ikterus fisiologis terjadi akibat 2 proses, yaitu

  1. Produksi bilirubin meningkat:
    • Konsentrasi Hb tinggi saat lahir dan menurun cepat selama beberapa hari pertama kehidupan
    • Umur sel darah merah pada bayi baru lahir lebih pendek
  1. Ekskresi bilirubin menurun:
    • Ambilan pada sel hati menurun
    • Konjugasi di hati menurun karena imaturitas enzim – enzim hati
    • Sirkulasi enterohepatik meningkat

Tanda dan Gejala Ikterus Fisiologis

    • Letargi dan malas
    • Bagian putih bola mata bayi terlihat kuning
    • Bayi yang tidak mau menyusu atau tidur terus menerus
    • Bila kulitnya ditekan beberapa detik akan terlihat warna kekuning – kuningan. Caranya: tekan jari telunjuk perlahan pada tempat – tempat yang tulangnya menonjol seperti tulang hidung, dada dan lutut
    • Tangisan bernada tingi
    • Kulit berwarna kuning

Oleh karena itu bidan perlu mengetahui dengan baik kapan terjadinya ikterus apakah berkepanjangan atau tingkat intensitasnya meninggi, sehingga dapat melakukan konsultasi atau merujuk pasien ke rumah sakit.

Cara Pencegahan Ikterus Fisiologis

    • Pencegahan infeksi pada bayi baru lahir
    • Pengawasan antenatal yang baik
    • Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi pada masa kehamilan dan kelahiran.
    • Pemberian minum sedini mungkin dengan jumlah cairan dan kalori yang mencukupi. Pemberian minum secara dini akan meningkatkan motilitas usus dan menyebabkan bakteri diintroduksi ke usus.

Penatalaksanaan Ikterus Fisiologis

    • Pemberian makanan dini (ASI) dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir.
    • Mengajarkan ibu cara perawatan bayi baru lahir dengan baik. Contoh : memandikan bayi dan perawatan tali pusat.
    • Tindakan menjemur bayi kuning di bawah sinar matahari, billirubin akan menyerap sinar dengan panjang gelombang 450 – 460 nm. Caranya : Lakukan antara jam 07.00 hingga jam 09.00 bayi dijemur sekitar ½ jam dengan posisi ¼ jam dalam kondisi terlentang dan ¼ jam lagi telungkup.

Ikterus dini

Bayi yang mendapat ASI eksklusif juga dapat mengalami ikterus. Ikterus ini ditimbulkan oleh produksi ASI yang belum banyak pada hari – hari pertama. Bayi mengalami kekurangan asupan makanan sehingga bilirubin direct yang sudah mencapai usus tidak terikat oleh makanan dan tidak dikeluarkan melalui anus bersama makanan. Di dalam usus, bilirubin direct ini diolah menjadi bilirubin indirect yang akan diarbsorpsi kembali ke dalam darah dan menyebabkan peningkatan sirkulasi enterohepatik. Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan dan jangan diberi air putih atau air gula. Untuk meminimalisir terjadinya ikterus dini butuh tindakan sebagai berikut :

    • Bayi dalam waktu 30 menit diletakkan ke dada ibunya selama 30 – 60 menit
    • Posisi dan perlekatan bayi pada payudara harus benar
    • Berikan kolostrum karena dapat membantu untuk membersihkan mekonium dengan segera. Mekonium yang mengandung bilirubin tinggi bila tidak segera dikeluarkan, bilirubinnya dapat diabsorbsi kembali sehingga meningkatkan kadar bilirubin dalam darah.
    • Bayi disusukan sesuai kemauannya tetapi paling kurang 8 kali sehari.
    • Jangan diberikan air putih, air gula atau apapun lainnya sebelum ASI keluar karena akan mengurangi asupan susu.
    • Pantau kecukupan produksi ASI dengan melihat buang air kecil bayi paling kurang 6 – 7 kali sehari dan buang air besar paling kurang 3 – 4 kali sehari

Ikterus karena ASI

Ikterus karena ASI pertama kali dijelaskan pada tahun 1963. Karakteristik ikterus karena ASI adalah kadar billirubin indirect yang masih meningkat setelah 4 – 7 hari pertama, berlangsung lebih lama dari ikterus fisiologis yaitu sampai 3 – 12 minggu dan tidak terdapat penyebab lainnya yang dapat mengakibatkan ikterus. Ikterus karena ASI bersangkutan dengan pemberian ASI dari seorang ibu tertentu dan seringkali akan timbul ikterus pada masing – masing bayi yang disusukannya. Selain itu, ikterus karena ASI juga bergantung kepada kemampuan bayi mengkonjugasi billirubin indirect (misalnya bayi prematur akan lebih besar kemungkinan terjadi ikterus).

Penyebab ikterus dikarenakan ASI belum jelas namun ada sejumlah faktor yang diduga memegang peran, yakni:

    • Terdapat hasil metabolisme hormon progesteron yaitu pregnane3-α 20 betadiol di dalam ASI yang menghambat uridine diphosphoglucoronic acid (UDPGA)
    • Peningkatan konsentrasi asam lemak bebas yang nonesterified yang menghambat fungsi glukoronid transferase di hati
    • Peningkatan sirkulasi enterohepatik karena adanya peningkatan aktivitas ß glukoronidase di dalam ASI saat berada dalam usus bayi.
    • Defekasi pada aktivitas uridine diphosphate-glucoronyl transferase (UGT1A1) pada bayi homozigot atau heterozigot untuk varian sindrom Gillbert.

Diagnosis ikterus karena ASI

Semua penyebab ikterus harus dihilangkan. Orang tua dapat ditanya apakah anak sebelumnya juga mengalami ikterus. Sekitar 70% bayi baru lahir yang saudara sebelumnya terjadi ikterus karena ASI akan terjadi ikterus pula. Beratnya ikterus bergantung pada kematangan hati untuk mengkonjugasi kelebihan billirubin indirect ini. Untuk kepastian diagnosis bila kadar bilirubin telah melebihi 16 mg/dl selama lebih dari 24 jam ialah dengan mengecek kadar billirubin 2 jam sesudah menyusu dan kemudian menghentikan pemberian ASI sekitar 12 jam (tentu bayi mendapat cairan dan kalori dari makanan yang berbeda berupa ASI dari donor atau pengganti ASI dan ibu tetap diperah supaya produksi ASI tidak berkurang). Setelah 12 jam kadar billirubin diperiksa ulang, bila penurunannya lebih dari 2 mg/dl maka diagnosis dapat dipastikan.

Bila kadar bilirubin telah menjangkau < 15 mg/dl, maka ASI dapat diberikan kembali. Kadar billirubin diperiksa ulang untuk melihat apakah ada peningkatan kembali. Pada  beberapa kasus penghentian ASI untuk beberapa waktu akan memberi kesempatan hati mengkonjugasi billirubin indirect yang berlebihan tersebut, sehingga saat ASI diberikan kembali kenaikannya tidak akan banyak dan kemudian berangsur menurun. Apabila kadar billirubin tidak turun maka penghentian pemberian ASI dilanjutkan sampai 18 – 24 jam dengan mengukur kadar billirubin setiap 6 jam. Apabila kadar billirubin tetap meningkat setelah penghentian pemberian ASI selama 24 jam maka jelas penyebabnya bukan karena ASI. ASI boleh diberikan kembali sambil mencari penyebab ikterus lainnya. Masih ada kontroversi untuk tetap melanjutkan pemberian ASI atau dihentikan sementara pada keadaan ikterus karena ASI. Biasanya kadar bilirubin bakal menurun menyeluruh bila ASI dihentikan sementara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *