Termoregulasi Dan Adaptasi Fisiologi Sistem Metabolisme pada Bayi

Termoregulasi Dan Adaptasi Fisiologi Sistem Metabolisme pada Bayi (1)
Termoregulasi Dan Adaptasi Fisiologi Sistem Metabolisme pada Bayi

Termoregulasi Dan Adaptasi Fisiologi Sistem Metabolisme Pada Bayi

Sistem Termogulasi 

            Termoregulasi ialah kemampuan guna menjaga keseimbangan antara pembentukan panas dan kehilangan panas agar dapat menjaga suhu tubuh di dalam batas normal. Continue reading “Termoregulasi Dan Adaptasi Fisiologi Sistem Metabolisme pada Bayi”

Perubahan sistem pernafasan pada Bayi Baru Lahir

Perubahan sistem pernafasan pada Bayi Baru Lahir (2)
Perubahan sistem pernafasan pada Bayi Baru Lahir

Perubahan sistem pernafasan pada Bayi Baru Lahir

Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melewati paru – paru. Rangsangan gerakan pernafasan pertama terjadi karena tekanan mekanik dari toraks sewaktu melewati jalan lahir (stimulasi mekanik), penurunan Pa O2 dan kenaikan Pa CO2 memicu kemoreseptor yang terletak di sinus karotikus (stimilasi kimiawi), rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu di dalam uterus ( stumalasi sensorik) dan refleks deflasi hering breur. Pernafasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 menit pertama setelah lahir. Usaha bayi pertama kali untuk menjaga tekanan alveoli, selain adanya surfaktan yang dengan menarik nafas dan mengeluarkan nafas dan mengeluarkan nafas dengan merintih sehingga udara terbendung didalam. Respirasi pada neonatus seringkali pernafasan diagfragmatik dan abdominal, sementara frekuensi dan dalamnya belum teratur. Apabila surfaktan berkurang, maka alveoli akan kolaps dan paru-paru kaku sehingga terjadi atelektasis. Dalam keadaan anoksia neonatus masih dapat mempertahankan kehidupannya karena adanya kenjutan metabolisme anaerobik. Continue reading “Perubahan sistem pernafasan pada Bayi Baru Lahir”

Adaptasi fisiologis kehamilan Sistem Integumen

Adaptasi fisiologis kehamilan Sistem Integumen (1)
Adaptasi fisiologis kehamilan Sistem Integumen

Adaptasi fisiologis kehamilan

Sistem Integumen

Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali merupakan bagian sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit, rambut, bulu, kuku, kelenjar keringat dan produknya ( keringat atau lendir ). Kata ini berasal dari bahasa latin ” integumentum “, yang berarti ” penutup “. Seluruh tubuh manusia bagian terluar terbungkus oleh suatu sistem yang disebut sistem integumen. Sistem integumen adalah sistem organ yang paling luar. Sistem ini terdiri atas kulit dan aksesorisnya, termasuk kuku, rambut,  kelenjar (keringat dan sebaseous), dan reseptor saraf khusus (untuk stimuli perubahan internal atau lingkungan eksternal). Sesuai dengan fungsinya, organ-organ pada sistem integumen berfungsi menutup organ atau jaringan dalam manusia dari kontak luar. Sistem Integumen pada manusia terdiri dari kulit, kuku, rambut, kelenjar keringat, kelenjar minyak dan kelenjar susu. Sistem integumen dapat memperbaiki sendiri (self-repairing) & mekanisme pertahanan tubuh pertama (pembatas antara lingkungan luar tubuh dengan dalam tubuh). Continue reading “Adaptasi fisiologis kehamilan Sistem Integumen”

Adaptasi fisiologi kehamilan pada Sistem Hematologi

Adaptasi fisiologi kehamilan pada Sistem Hematologi (2)
Adaptasi fisiologi kehamilan pada Sistem Hematologi

Adaptasi fisiologi kehamilan

Sistem Hematologi

Hematologi adalah ilmu yang mempelajari tentang darah serta jaringan yang membentuk darah. Darah merupakan bagian penting dari sistem transport. Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan yang terdiri dari 2 bagian besar yaitu plasma darah dan bagian korpuskuli. Dalam arti lain hematologi juga dikenal sebagai cabang ilmu kedokteran mengenai sel darah, organ pembentuk darah, dan kelainan yang berhubungan dengan sel serta organ pembentuk darah. Ibu hamil mengalami berbagai perubahan anatomis, fisiologi dan biokimia dalam tubuh. Perubahan-perubahan ini sebagian besar sudah terjadi segera setelah fertilisasi dan terus berlanjut selama kehamilan. Kebanyakan perubahan ini merupakan bentuk adaptasi tubuh terhadap kehadiran janin. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan hematologis yang memegang peran cukup penting dalam mempersiapkan tubuh ibu hamil sebagai media pertumbuhan dan perkembangan janin. Adapun perubahan hematologis ini berupa pertambahan volume darah, perubahan konsentrasi hb dan hematokrit, perubahan fungsi imunologis serta faktor – faktor koagulasi. Continue reading “Adaptasi fisiologi kehamilan pada Sistem Hematologi”

Adaptasi Sistem Pencernaan Pada Kehamilan

Adaptasi Sistem Pencernaan Pada Kehamilan (2)
Adaptasi Sistem Pencernaan Pada Kehamilan

Adaptasi Fisiologis Kehamilan

Sistem Pencernaan

Sistem gastrointestinal terpengaruh dalam beberapa hal karena kehamilan. Tinggina kadar progesteron mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolesterol darah, dan melambatkan kontraksi otot – otot polos. Sekresi salisa menjadi lebih asam dan lebih banyak, dan asam lambung menurun. Pembesaran uterus lebih menekan diafragma, lambung dan intestin. Pada bulan – bulan awal kehamilan, sebagian wanita mengalami mual dan muntah. Sebagaimana kehamilan berlanjut, penurunan asam lambung, melambatkan pengosongan lambung, dan mengakibatkan kembung. Menurunnya gerakan peristaltik tidak hanya menyebabkan mual tetapi juga konstipasi karena lebih banyak feses terdapat pada usus, lebih banyak air diserap makin akan semakin mengeras. Konstipasi bisa juga disebabkan oleh tekanan uterus pada usus bagian bawah pada awal masa kehamilan dan kembali pada akhir Continue reading “Adaptasi Sistem Pencernaan Pada Kehamilan”

Adaptasi fisiologi Sistem pernafasan pada kehamilan

Adaptasi fisiologi Sistem pernafasan pada kehamilan (1)
Adaptasi fisiologi Sistem pernafasan pada kehamilan

Adaptasi fisiologi pada kehamilan

Sistem pernafasan

Pada ibu hamil terjadi perubahan fisiologis yang tidak hanya berhubungan dengan berubahnya bentuk dan berat badan, tetapi juga perubahan biokimia, fisiologis, bahkan emosional yang merupakan konsekuensi dari pertumbuhan janin dalam rahim. Sejalan dengan pertumbuhan janin dan mendorong diafragma ke atas, bentuk dan ukuran rongga dada berubah tetapi tidak membuatnya lebih kecil. Kapasitas paru terhadap udara tetap sama seperti sebelum hamil atau mungkin berubah. Kecepatan pernapasan dan kapasitas vital tidak berubah. Voolume tidal, volume ventilator permenit, dan ambilan oksigen meningkat. Karena bentuk dari rongga thorak berubah dan karena bernapas lebih cepat. Selama kehamilan juga terjadi prubahan hormonal dan faktor mekanik. Perubahan – perubahan ini diperlukan untuk mencukupi peningkatan kebutuhan metabolik dan sirkulasi untuk pertumbuhan janin, plasenta dan uterus. Dari faktor mekanik, terjadinya peningkatan diafragma terutama setelah trimester kedua kehamilan akibat membesarnya janin, menyebabkan turunnya kapasitas residu fungsional yang merupakan volume udara yang tidak digunakan dalam paru sekitar 20%. Saat kehamilan berjalan normal resistensi saluran napas menurun sebesar 50%. Continue reading “Adaptasi fisiologi Sistem pernafasan pada kehamilan”

Adaptasi sistem kardiovaskuler pada kehamilan

Adaptasi sistem kardiovaskuler pada kehamilan (1)
Adaptasi sistem kardiovaskuler pada kehamilan

Adaptasi sistem kardiovaskuler saat kehamilan

Sistem kardiovaskuler beradaptasi selama masa kehamilan terhadap perubahan yang terjadi. Meskipun perubahan system kardiovaskular terlihat pada awal trimester pertama, kemudian berlanjut ke trimester kedua dan ketiga, ketika cardiac output meningkat kurang lebih sebanyak 40 % daripada pada wanita yang tidak hamil. Cardiac output meningkat dari minggu ke 5 kehamilan dan mencapai tingkat maksimum sekitar minggu ke-32 kehamilan, setelah itu hanya mengalami sedikit peningkatan sampai masa persalinan, kelahiran, dan masa post partum. Sekitar 50% peningkatan dari cardiac output telah terjadi pada masa minggu ke 8 kehamilan. Meskipun peningkatan cardiac output dikarenakan adanya peningkatan dari volume sekuncup dan denyut jantung, faktor paling penting adalah volume sekuncup, dimana meningkat sebanyak 20% sampai 50% lebih banyak daripada pada wanita tidak hamil. Perubahan denyut jantung sangat sulit untuk dihitung, tetapi diperkirakan ada peningkatan sekitar 20% yang terlihat pada minggu ke 4 kehamilan. Continue reading “Adaptasi sistem kardiovaskuler pada kehamilan”

Darah Nifas (Lochea)

Darah  Nifas (Lochea) (1)
Darah Nifas (Lochea)

Darah Saat Masa Nifas (Lochea)

Setiap ibu yang melahirkan pasti akan mengalami perdarahan setelah melahirkan atau yang disebut dengan masa nifas. Perdarahan ini adalah mekanisme alami dari tubuh untuk membersihkan rahim dari darah dan plasenta yang terbentuk selama hamil. Salah satu yang ikut luruh dan dikeluarkan pada masa nifas adalah lokhea. Lochia diartikan sebagai darah nifas atau ekskresi yang terjadi selama periode pasca persalinan. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti “berhubungan dengan kelahiran.” Lochia terdiri dari darah, jaringan yang terkelupas dari lapisan uterus, dan bakteri. Selama beberapa hari setelah melahirkan, lochia terdiri dari darah dalam jumlah yang wajar, jadi warnanya merah terang dan terlihat seperti darah menstruasi yang berat. Lochia bisa keluar berupa pancaran darah. Bila Anda berbaring untuk sementara waktu dan darah telah berkumpul di vagina, Anda akan melihat gumpalan darah kecil saat bangkit dari posisi berbaring. Continue reading “Darah Nifas (Lochea)”

Involusi dan Subinvolusi Uterus

Involusi dan Subinvolusi Uterus (1)
Involusi dan Subinvolusi Uterus

Involusi dan Subinvolusi Uterus

Involusi uterus adalah suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot – otot polos uterus. Intensitas kontraksi uterus meningkat sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterine yang sangat besar. Hemostatis pascapartum dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium. Hormon yang dilepaskan kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh darah dan membantu hemostatis. Selama 1 samapai 2 jam pertama pasca partum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, ibu dianjurkan menyusui bayinya. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) atau permulaan menyusui dini adalah bayi mulai menyusui sendiri segera setelah lahir. Inisiasi menyusui ini dan pengisapan puting payudara oleh bayi pada awal masa nifas memperkuat stimulasi pengeluaran oksitosin. Ketika bayi menghisap puting, refleks saraf merangsang lobus posterior kelenjar pituitary untuk mensekresi hormon oksitosin. Oksitosin mempercepat proses involusi dan meminimalkan kehilangan darah. Continue reading “Involusi dan Subinvolusi Uterus”

Ikterus Neonatorum Fisiologis

Ikterus Neonatorum Fisiologis (1)
Ikterus Neonatorum Fisiologis

Ikterus Neonatorum Fisiologis

Ikterus atau warna kuning sering dijumpai pada bayi baru lahir dalam batas normal pada hari kedua sampai hari ketiga dan akan menghilang pada hari kesepuluh. Oleh karena itu, menjelang kepulangan bayi, ikterus harus mendapat perhatian karena mungkin sifatnya patologis. Ikterus yang dialami sebagian besar bayi baru lahir ini merupakan ikterus fisiologis. Billirubin ini merupakan hasil metabolisme hemoglobin yang terkandung di dalam sel darah merah, sel darah merah ini memiliki usia tertentu, 120 hari pada orang dewasa dan sekitar 70 – 90 hari pada neonatus. Usia sel darah merah yang pendek ini terjadi karena kondisi sel darah merah nenonatus yang masih sangat muda (immature), selnya berinti besar sehingga sangat mudah mengalami hemolisis (pemecahan). Apabila mencapai masanya, sel darah merah ini akan mengalami destruksi atau pemecahan. Continue reading “Ikterus Neonatorum Fisiologis”