Adaptasi Psikologis Masa Nifas

Adaptasi Psikologis Masa Nifas (3)
Adaptasi Psikologis Masa Nifas

Adaptasi Psikologis Masa Nifas

Adaptasi psikologis ibu masa nifas

Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya. Ia mengalami stimulasi kegembiraan yang luar biasa, menjalani eksplorasi dan asimilasi terhadap bayinya, berada di bawah tekanan untuk dapat menyerap pembelajaran yang diperlukan tentang apa yang harus diketahuinya dan perawatan untuk bayinya, danĀ  merasa tanggung jawab yang luar biasa untuk menjadi seorang ” ibu “. Tidak mengherankan jika ibu mengalami sedikit perubahan perilaku dan sesekali merasa kerepotan. Masa ini adalah masa rentan dan terbuka untukĀ  bimbingan dan pembelajaran.

Reva rubin membagi periode ini menjadi 3 bagian, antara lain :

    1. Periode ” Taking In

Periode ini terjadi 1 sampai 2 hari setelah melahirkan. Ibu baru pada umumnya pasif, perhatiannya tertuju pada kekhawatiran akan tubuhnya. Ia mungkin akan mengulang – ulang menceritakan pengalamannya sewaktu melahirkan. Tidur tanpa gangguan sangat penting untuk mengurangi gangguan kesehatan akibat kurang istirahat.

Peningkatan nutrisi dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan dan penyembuhan luka, serta persiapan proses laktasi aktif

Dalam memberikan asuhan, bidan harus memfasilitasi kebutuhan psikologis ibu. Pada tahap ini bidan dapat menjadi pendengar yang baik ketika ibu menceritakan pengalamannya. Berikan juga dukungan mental atau apresiasi atas hasil perjuangan ibu sehingga dapat berhasil melahirkan anaknya. Bidan harus dapat menciptakan suasana yang nyaman bagi ibu sehingga ibu dapat dengan leluasa dan terbuka menyampaikan permasalahan yang dihadapi. Dalam hal ini sering terjadi kesalahan dalam pelaksanaan perawatan yang dilakukan oleh pasien terhadap diri dan bayinya hanya karena kurangnya komunikasi.

    1. Periode ” Taking Hold

Periode ini berlangsung pada hari ke 2 sampai 4 post partum. Ibu menjadi perhatian kemampuannya menjadi orang tua yang sukses dan meningkatkan tanggung jawab terhadap bayi. Ibu juga berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, buang air besar, buang air kecil, serta kekuatan dan ketahanan tubuhnya. Pada periode ini ibu berusaha keras untuk menguasai ketrampilan perawatan bayi, misalnya menggendong, memandikan, memasang popok, dan sebagainya.

Pada masa ini biasanya sedikit sensitif dan merasa tidak mahir dalam melakukan hal – hal tersebut. Bidan harus tanggap terhadap kemungkinan perubahan yang terjadi. Tahap ini merupakan waktu yang tepat untuk memberikan bimbingan cara perawatan bayi, namun harus selalu diperhatikan teknik bimbingannya, jangan sampai menyinggung perasaan atau membuat perasaan ibu tidak nyaman. Hindari kata ” jangan begitu ” atau ” kalau seperti salah ” pada ibu karena hal itu akan sangat menyakiti perasaaanya dan berakibat ibu akan putus asa untuk terus mengikuti bimbingan yang diberikan.

    1. Periode ” Letting Go

Periode ini sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga. Ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi dan ia harus beradaptasi dengan segala kebutuhan bayi yang sangat tergantung padanya. Hal ini menyebabkan berkurangnya hak ibu, kebebasan, dan hubungan sosial. Depresi post partum umunya terjadi pada periode ini.

Faktor – faktor yang mempengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada saat post partum, antara lain :

    • Respon dan dukungan keluarga dan teman

Bagi ibu post partum, terlebih pada ibu yang pertama kali melahirkan akan sangat membutuhkan dukungan orang – orang terdekatnya karena ia belum sepenuhnya berada pada kondisi stabil, baik fisik maupun psikologisnya. Ia masih sangat asing dengan perubahan peran barunya menjadi seorang ibu. Dengan respon positif dari lingkungan akan mempercepat proses adaptasi sehingga akan memudahkan untuk memberikan asuhan.

    • Hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirasi

Hal yang dialami oleh ibu ketika melahirkan akan sangat berwarnai terhadap perannya sebagai ibu. Ia akhirnya menjadi tahu bahwa begitu beratnya ia harus berjuang untuk melahirkan bayinya dan hal tersebut akan memperkaya pengalaman hidupnya. Banyak kasus terjadi setelah ibu melahirkan anak yang pertama ia akan bertekad untuk lebih meningkatkan kualitas hubungannya dengan ibunya.

    • Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu

Meskipun ini bukan pengalamannya yang pertama, namun kebutuhan untuk mendapat dukungan positif dari lingkungannya tidak berbeda dengan ibu yang baru melahirkan anak pertama. Hanya perbedaannya adalah teknik penyampaian dukungan dalam melewati saat – saat sulit pada persalinannya yang lalu.

    • Pengaruh budaya

Adanya adat yang dianut oleh lingkungan dan keluarga sedikit banyak akan mempengaruhi keberhasilan ibu dalam melewati masa transisi ini. Apalagi jika ada hal yang tidak sesuai antara arahan dari tenaga kesehatan dengan budaya yang dianut. Dalam hal ini bidan harus bijaksana dalam menyikapi, namun tidak mengurangi kualitas asuhan yang harus diberikan. Keterlibatan keluarga dari awal dalam menentukan bentuk asuhan dan perawatan yang harus diberikan pada ibu dan bayi akan memudahkan bidan dalam memberikan asuhan.

Post Partum Blues

Fenomena pasca partum awal atau baby blues merupakan umum terjadi, biasanya terjadi pada 70 % wanita melahirkan. Penyebabnya ada beberapa hal, antara lain lingkungan tempat melahirkan yang kurang mendukung, perubahan hormon yang cepat, dan keraguan terhadap peran yang baru. Pada dasarnya, tidak satupun dari ketiga hal tersebut menjadi penyebab yang konsisten. Faktor penyebabnya biasanya merupakan kombinasi dari berbagai faktor, termasuk adanya gangguan tidur yang tidak dapat dihindari oleh ibu selama masa – masa awal menjadi seorang ibu.

Post partum blues biasanya dimulai pada beberapa hari setelah kelahiran dan berakhir setelah 10 sampai 14 hari. Karakteristik post partum blues meliputi menangis, merasa letih karena melahirkan, gelisah, perubahan mood, menarik diri, serta reaksi negatif terhadap bayi dan keluarga. Karena pengalaman melahirkan digambarkan sebagai ” puncak “, ibu baru mungkin merasa perawatan dirinya tidak kuat atau ia tidak mendapat perawatan yang tepat, jika bayangan melahirkan tidak sesuai dengan yang ia alami. Ia mungkin juga merasa diabaikan jika perhatian keluarganya tiba – tiba berfokus pada bayi saja.

Kunci untuk mendukung ibu dalam melalui periode ini adalah berikan perhatian dan dukungan yang baik baginya, serta yakinkan bahwa ia adalah orang yang berarti bagi suami dan keluarga. Hal yang terpenting, berikan kesempatan untuk beristirahat yang cukup. Selain itu, dukungan positif atas keberhasilannya menjadi orang tua dapat memulihkan kepercayaan diri.

Kesedihan dan Duka Cita

Istilah lain adalah ” berduka “, yang diartikan sebagai respon psikologis terhadap kehilangan. Proses berduka sangat bervariasi, tergantung dari apa yang hilang, serta persepsi dan keterlibatan individu terhadap apapun yang hilang. ” Kehilangan ” dapat memiliki makna, mulai dari pembatalan kegiatan (piknik, perjalanan, atau pesta) sampai kematian orang yang dicintai. Seberapa berat kehilangan tergantung dari persepsi individu yang menderita kehilangan. Contohnya kematian dapat menimbulkan respon berduka yang ringan sampai berat, bergantung pada hubungan dan keterlibatan individu dengan orang yang meninggal.

Kehilangan maternitas termasuk hal yang dialami oleh wanita yang mengalami infertilitas (wanita yang tidak mampu hamil atau yang tidak mampu mempertahankan kehamilannya), yang mendapatkan bayinya hidup tetapi kehilangan harapan (prematuritas atau kecacatan kongenital), dan kehilangan yang kehilangan yang dibahas pada post partum blues (hilangnya keintiman internal dengan bayinya dan hilangnya perhatian). Kehilangan lain yang penting tetapi sering dilupakan, yaitu perubahan hubungan eksklusif antara suami dan istri menjadi terpecah setelah adanya seorang anak.

Dalam hal ini, ” berduka ” dibagi dalam 3 tahap antara lain :

    • Tahap syok

Tahap ini merupakan tahap awal dari kehilangan. Manifestasi perilaku meliputi penyangkalan, ketidakpercayaan, marah, jengkel, ketakutan, kecemasan, rasa bersalah, kekosongan, kesendirian, kesedihan, kurang konsentrasi, dan lain sebagainya.

    • Tahap penderitaan (fase realitas)

Penerimaan terhadap fakta kehilangan dan upaya penyesuaian terhadap realitas yang harus ia lakukan terjadi selama periode ini. Selama masa ini kehidupan orang yang berduka akan terus berlanjut. Saat individu terus melanjutkan tugasnya untuk berduka, dominasi kehilangannya secara bertahap berubah menjadi kecemasan terhadap masa depan.

    • Tahap resolusi (fase menentukan hubungan yang bermakna)

Selama periode ini, orang yang berduka menerima kehilangan, penyesuaian telah komplet, dan individu kembali pada fungsinya secara penuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *