Adaptasi fisiologi Sistem pernafasan pada kehamilan

Adaptasi fisiologi Sistem pernafasan pada kehamilan (1)
Adaptasi fisiologi Sistem pernafasan pada kehamilan

Adaptasi fisiologi pada kehamilan

Sistem pernafasan

Pada ibu hamil terjadi perubahan fisiologis yang tidak hanya berhubungan dengan berubahnya bentuk dan berat badan, tetapi juga perubahan biokimia, fisiologis, bahkan emosional yang merupakan konsekuensi dari pertumbuhan janin dalam rahim. Sejalan dengan pertumbuhan janin dan mendorong diafragma ke atas, bentuk dan ukuran rongga dada berubah tetapi tidak membuatnya lebih kecil. Kapasitas paru terhadap udara tetap sama seperti sebelum hamil atau mungkin berubah. Kecepatan pernapasan dan kapasitas vital tidak berubah. Voolume tidal, volume ventilator permenit, dan ambilan oksigen meningkat. Karena bentuk dari rongga thorak berubah dan karena bernapas lebih cepat. Selama kehamilan juga terjadi prubahan hormonal dan faktor mekanik. Perubahan – perubahan ini diperlukan untuk mencukupi peningkatan kebutuhan metabolik dan sirkulasi untuk pertumbuhan janin, plasenta dan uterus. Dari faktor mekanik, terjadinya peningkatan diafragma terutama setelah trimester kedua kehamilan akibat membesarnya janin, menyebabkan turunnya kapasitas residu fungsional yang merupakan volume udara yang tidak digunakan dalam paru sekitar 20%. Saat kehamilan berjalan normal resistensi saluran napas menurun sebesar 50%.

Perubahan – perubahan ini menyebabkan terjadinya perubahan pada kimia dan gas darah. Karena meningkatnya ventilasi maka terjadi penurunan pCO2 menjadi 30 mmHg, sedangkan pO2 tetap berkisar dari 90 – 106 mmHg, sebagai penurunan pCO2 akan terjadi mekanisme sekunder gnjal untuk mengurangi plasma bikarbonat menjadi 18 – 22 mEq/l sehingga pH darah tidak mengalami perubahan. Secara anatomi terjadi peningkatan sudut subkostal dari 68,5 – 103,5 selama kehamilan. Perubahan fisik ini disebabkan oleh elevasi diafragma sekitar 4 cm dan peningkatan diameter tranversal dada maksimal sebesar 2 cm.

Perubahan yang terjadi disetiap trimester :

    • Trimester I

Kebutuhan oksigen ibu bertambah sebagai respon terhadap percepatan laju metabolik dan peningkatan kebutuhan oksigen jaringan uterus dan payudara. Janin membutuhkan oksigen dan suatu cara untuk membuang karbon dioksida. Peningkatan kaar oksigen menyebabkan ligamentum pada kerangka iga berelaksasi sehingga ekspansi rongga dada meningkat. Wanita hamil bernafas lebih dalam tetapi frekuensi napasnya hanya sedikit meningkat. Peningkatan volume tidal pernapasan yang berhubungan dengan frekuensi napas normal menyebabkan peningkatan volume napas satu menit sekitar 26 %. Peningkatan volume napas satu menit hiperventilasi kehamilan, yang menyebabkan konsentrasi karbon dioksida dialveoli menurun. Selain itu pada kehamilan juga terjadi perubahan sistem respirasi untuk dapat memenuhi kebutuhan oksigen. Selain itu terjadi tekanan diafragma karena desakan rahim yang membesar pada umur kehamilan 32 minggu sebagai kompensasi terjadi tekanan rahim dan kebutuhan oksigen meningkat.

Kesadaran untuk mengambil napas serng meningkat pada awal kehamilan yang mungkin diinterprestasikan sebagai dispneu. Hal itu sering mengesankan adanya kelainan paru padahal baik – baik saja. Peningkatan usaha nafas selama kehamilan kemungkinan diinduksi khususnya oleh progesteron dan sisanya oleh estrogen. Usaha nafas yang meningkat tersebut mengakibatkan pCO2 atau tekanan karbondioksida berkurang.

    • Trimester II

Selama kehamilan srikumferensia thorax akan bertambah sekitar 6 cm dan diafragma akan naik berkisar 4 cm karena penekanan uterus pada rongga abdomen. Pada kehamilan lanjut, volume tidal, volume ventilasi per menit dan pengambilan oksigen per menit akan bertambah secara signifikan. Karena adanya penurunan tekanan oksigen seorang ibu hamil sering mengeluhkan sesak napas sehingga meningkatkan usaha bernapas.

    • Trimester III

Pergerakan diafragma semakin terbatas seiring dengan pertambahan ukuran uterus dalam rongga abdomen. Wanita hamil akan bernafas lebih dalam sehingga memungkinkan percampuran gas meningkat dan konsumsi oksigen meningkat 20%. Pada 32 minggu ke atas karena usus – usus tertekan uterus yang membesar ke arah diafragma sehingga diafragma kurang leluasa bergerak mengakibatkan wanita hamil kesulitan bernapas.

Senam hamil ialah latihan olahraga untuk ibu hamil yang bertujuan untuk penguatan otot – otot tungkai, mengingat tungkai akan menopang berat tubuh yang semakin membesar seiring dengan bertambahnya umur kehamilan. Mencegah varises yakni pelebaran pembuluh darah balik (vena) secara segmental yang tak jarang terjadi pada ibu hamil. Memperpanjang nafas, karena seiring dengan meningkat besarnya janin maka ia akan mendesak perut ke arah dada, hal ini akan membuat rongga dada lebih sempit dan nafas ibu tidak dapat optimal. Dengan senam hamil maka ibu akan diajak berlatih agar nafasnya lebih panjang dan tetap relax.

Macam  – macam pola pernafasan:

    • Irama dan kecepatan pernafasan normal
    • Peningkatan kecepatan pernafasan
    • Lambat tetapi merupakan pernafasan normal
    • Tidak terdapatnya pernafasan
    • Chene Stokes. Pernafasan secara bertahap lebih cepat dan dalam, kemudian melambat diselingi periode apnea.
    • Biot’s. Pernafasan cepat dan dalam dengan berhenti tiba – tiba
    • Pernafasan cepat dan dalam tanpa berhenti

Memasuki bulan ke 5 kehamilan expiratory reserve volume, residuak volume, dan functional residual capacity menurun, mendekati akhir masa kehamilan menurun sebanyak 20% dibandingkan pada wanita yang tidak hamil.

Secara umum, ditemukan penambahan dari inspiratory reserve volume sampai kapasitas paru total tidak mengalami perubahan. Pada beberapa ibu hamil, penurunan functional residual capacity tidak mengakibatkan masalah, tetapi bagi mereka yang merasakan perubahan pada closing volume lebih awal sebagai dampak dari merokok, obesitas, atau skoliosis dapat mengalami hambatan jalan nafas awal dengan kehamilan lanjut yang menyebabkan hipoksemia. Manuver tredelenburg dan posisi supin pun dapat meminimalisir hubungan abnormal antara closing volume dan functional residual capacity. Volume residual dan functional residual capacity kembali normal setelah proses persalinan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *