Adaptasi fisiologi kehamilan pada Sistem Hematologi

Adaptasi fisiologi kehamilan pada Sistem Hematologi (2)
Adaptasi fisiologi kehamilan pada Sistem Hematologi

Adaptasi fisiologi kehamilan

Sistem Hematologi

Hematologi adalah ilmu yang mempelajari tentang darah serta jaringan yang membentuk darah. Darah merupakan bagian penting dari sistem transport. Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan yang terdiri dari 2 bagian besar yaitu plasma darah dan bagian korpuskuli. Dalam arti lain hematologi juga dikenal sebagai cabang ilmu kedokteran mengenai sel darah, organ pembentuk darah, dan kelainan yang berhubungan dengan sel serta organ pembentuk darah. Ibu hamil mengalami berbagai perubahan anatomis, fisiologi dan biokimia dalam tubuh. Perubahan-perubahan ini sebagian besar sudah terjadi segera setelah fertilisasi dan terus berlanjut selama kehamilan. Kebanyakan perubahan ini merupakan bentuk adaptasi tubuh terhadap kehadiran janin. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan hematologis yang memegang peran cukup penting dalam mempersiapkan tubuh ibu hamil sebagai media pertumbuhan dan perkembangan janin. Adapun perubahan hematologis ini berupa pertambahan volume darah, perubahan konsentrasi hb dan hematokrit, perubahan fungsi imunologis serta faktor – faktor koagulasi.

Volume darah maternal mulai meningkat pada awal masa kehamilan sebagai akibat dari perubahan osmoregulasi dan sistem reninangiotensin, menyebabkan terjadinya retensi sodium dan peningkatan dari total body water menjadi 8,5 L. Pada masanya, volume darah meningkat sampai 45 % dimana volume sel darah merah hanya meningkat sampai 30 %. Perbedaan peningkatan ini dapat menyebabkan terjadinya “anemia fisiologis” dalam kehamilan dengan hemoglobin rata – rata 11,6 g/dl dan hematokrit 35,5 %. Bagaimanapun, transpor oksigen tidak terganggu oleh anemia relatif ini, karena tubuh sang ibu memberikan kompensasi dengan cara meningkatkan curah jantung, peningkatan PaO2 dan pergeseran ke kanan dari kurva disosiasi oxyhemoglobin. Kehamilan sering diasosiasikan dengan keadaan hiperkoagulasi yang memberikan keuntungan dalam membatasi terjadinya kehilangan darah saat proses persalinan. Fibrinolisis secara cepat dapat langsung diobservasi pada trimester ketiga. Sebagai efek dari anemia delusi, leukositosis, dan penurunan dari jumlah platelet sebanyak 10 % mungkin saja terjadi selama trimester ketiga. Karena kebutuhan fetus, anemia defisiensi folat dan zat besi mungkin saja terjadi jika suplementasi dari zat gizi ini tidak terpenuhi. Imunitas sel ditandai dengan mengalami penurunan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi viral.

    1. Volume Darah

Pada ibu hamil akan terjadi peningkatan volume darah yang signifikan meskipun peningkatannya bervariasi pada tiap ibu hamil. Peningkatan volume darah dimulai pada trimester pertama kehamilan yang akan berkembang secara progresif mulai minggu ke-6 – 8 kehamilan dan mencapai puncaknya pada minggu ke-32 – 34 kehamilan dan akan kembali pada kondisi semulai pada 2-6 minggu setelah persalinan. Volume darah terdiri dari plasma darah dan komponen darah. Diawal masa kehamilan, volume plasma darah akan meningkat secara cepat sebesar 40-45%. Hal ini dipengaruhi oleh aksi progesteron dan estrogen pada ginjal yang diinisiasi jalur renin – angiotensin dan aldosteron. Disamping peningkatan volume plasma, juga terjadi peningkatan volume komponen darah yaitu eritrosit. Jumlah eritropoietin ibu hamil yang meningkat menyebabkan peningkatan produksi eritrosit sebanyak 20-30%. Perubahan volume darah ini menghasilkan kondisi hipervolemia pada ibu hamil dimana cairan tubuh meningkat menjadi 6 – 8 liter dengan 4 – 6 liternya didistribusikan pada kompartemen ekstraselular.

Hipervolemia yang diinduksi kehamilan memiliki beberapa peran penting, yaitu :

    1. Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan metabolik dari uterus yang membesar dengan sistem vaskularisasi yang hipertrofi
    2. Untuk menyediakan nutrisi yang banyak untuk mendukung pertumbuhan pesat dari plasenta dan janin
    3. Untuk melindungi ibu dan janin dari efek buruk akibat terganggunya aliran balik vena pada posisi terlentang dan tegak
    4. Untuk menjaga ibu dari efek buruk kehilangan darah saat melahirkan.

2. Konsentrasi Hb dan Hematokrit

Kondisi hipervolemia diakibatkan oleh peningkatan volume plasma darah dan jumlah eritrosit dalam sirkulasi. Namun dikarenakan peningkatan eritrosit yang jauh lebih rendah dibandingkan peningkatan volume plasma itu sendiri maka terjadilah hemodilusi dan penurunan konsentrasi hb serta hematokrit. Kadar Hb yang awalnya sekitar 15 gr/dl turun menjadi 12,5 gr/dl, bahkan pada 6% ibu hamil dapat turun sampai dibawah 11 gr/dl. Namun apabila konsentrasi hb dibawah 11 gr/dl terus berlanjut dapat mengindikasikan kondisi yang abnormal dan biasanya lebih sering berkaitan dengan defisiensi besi daripada hipervolemia.

    1. Fungsi Imunologis

Respon imun memegang peranan penting dalam berbagai proses reproduktif seperti menstruasi, pembuahan, kehamilan serta melahirkan. Jelas sekali, selama kehamilan, ketika tubuh ibu harus menerima janin yang semi-allogeneic, sistem imun sangat berperan penting. Janin semi-allogeneic dapat bertahan tumbum pada tubuh ibu hamil karena interasi imunologis antara ibu hamil dan janin ditekan. Salah satu mekanisme yang terjadi adalah penekanan sel T helper (Th) 1 dan T sitotoksik (Tc) 1 yang menurunkan sekresi interleukin 2 (IL-2), interferon-γ dan tumor necrosis factor (TNF-β). Ada juga bukti yang menyatakan bahwa penekanan terhadap Th-1 merupakan syarat agar suatu kehamilan dapat terus berlanjut. Meskipun begitu, menurut Michimata et al, (2003) dalam Cunningham et al, (2010), tidak semua komponen imun dalam tubuh ibu hamil ditekan atau mengalami penurunan. Salah satu contoh, terjadi kenaikan dari sel Th-2 untuk meningkatkan sekresi IL-4, IL-6, dan IL-13. Pada mukus serviks, kadar puncak dari immunoglobulin A dan G (IgA dan IgG) lebih tinggi pada masa kehamilan. Begitu juga dengan kadar IL-1β pada mukus serviks yang jumlahnya sepuluh kali lebih besar pada ibu hamil.

Selama kehamilan, jumlah leukosit akan meningkat yakni berkisar 5.000 – 12.000/µl dan mencapai puncaknya saat persalinan dan masa nifas berkisar 14.000 – 16.000/µl meski penyebab peningkatan ini belum diketahui. Distribusi tipe sel juga akan mengalami perubahan. Pada kehamilan, terutama trimester ketiga terjadi peningkatan jumlah granulosit dan limfosit CD8 T dan secara bersamaan terjadi penurunan limfosit dan monosit CD4 T. Dengan sistem imun yang ‘ditekan’ dalam kehamilan, suatu hal yang wajar jika ibu hamil menjadi rentan terhadap infeksi. Namun untuk menegakkan kondisi infeksi pada ibu hamil dapat menjadi lebih sulit karena banyak pemeriksaan yang digunakan untuk mendiagnosa inflamasi tidak dapat dipercayai hasilnya pada saat kehamilan. Contohnya kadar leukocyte alkaline phosphatase yang digunakan untuk mengevaluasi kelainan myeloproliferatif mengalami kenaikan diawal masa kehamilan. Konsentrasi dari penanda inflamasi akut seperti C-reactive protein (CRP) dan Laju Endap Darah (LED) juga akan meningkat karena peningkatan plasma globulin dan fibrinogen. Faktor komplemen C3 dan C4 juga secara signifikan meningkat selama trimester dua dan tiga kehamilan.

4. Koagulasi dan Fibrinolisis

Kondisi kehamilan juga berpengaruh pada koagulasi dan fibrinolisis. Pada ibu hamil terjadi perubahan keseimbangan koagulasi intravaskular dan fibrinolisis sehingga menginduksi suatu keadaan hiperkoagulasi. Faktor – faktor prokoagulasi meningkat pada akhir dari trimester satu, kecuali faktor XI dan XII. Contohnya faktor VII, VIII dan IX seluruhnya meningkat dan kadar fibrinogen plasma menjadi dua kali lipat sedangkan antitrombin III, inhibitor koagulasi menurun jumlahnya. Protein C, yang menginaktivasi faktor V dan VIII, kemungkinan tidak berubah selama kehamilan tapi konsentrasi protein S, salah satu kofaktornya, menurun selama trimester satu dan dua. Sekitar 5-10% dari total fibrinogen yang berada dalam sirkulasi dikonsumsi selama pelepasan plasenta. Hal ini yang menyebabkan thromboembolism. Aktifitas plasma fibrinolitik menurun selama kehamilan dan persalinan namun kembali ke kondisi normal dalam satu jam setelah kelahiran plasenta yang menunjukkan bahwa kontrol dari fibrinolisis selama kehamilan dipengaruhi oleh mediator-mediator dari plasenta. Kehamilan normal juga mengakibatkan perubahan kadar platelet. Ditemukan kadar platelet yang sedikit lebih rendah selama kehamilan yaitu sekitar 213.000/L dibandingkan 250.000/L pada perempuan yang tidak hamil. Penurunan kadar platelet ini sebagian diakibatkan oleh efek dari hemodilusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *